Hari Perbedaan

Banyak orang yang mengatakan dia gila. Tidak sedikit orang mengatakannya sebagai sumber bala. Sering kali dia: dicemooh, digunjing, dan dihina. Dia miskin dan hidup sebatang kara. Istrinya sudah lama mati kena kanker. Sanak saudaranya tidak pernah mengakuinya. Dia hidup di negeri miskin dalam segi harta. Di kota pembuangan, Bekasi, dia tinggal mengontrak dan hidup sebagai penjual buku keliling.

Badannya kurus. Tubuhnya setinggi orang negeri ini kebanyakan. Kulitnya cokelat agak hitam. Gamis putih panjang terbentang mengikuti panjang kakinya. Digantung pada lehernya: salib dan tasbih. Sebagai penanda, dia seorang Kristen. Sebagai isyarat bahwa dia seorang Muslim. Rambut panjangnya tumbuh liar melewati pundak. Matanya tidak pernah kosong, selalu memandang ke depan.

Kegiatan rutinnya beribadat. Jumat siang, ketika matari tepat di atas bumi, dia bersujud pada Tuhannya. Setiap Minggu pagi dia menyembah di tempat yang lain. Minggu siang, dia bermunajat di tempat lain lagi. Tak pernah ia memakan babi. Tak pernah ia memakan sapi. Tak pernah pula ia menikah lagi. Pernah dia berbual kepada salah satu penduduk kota, “Saya punya tiga agama: Islam, Kristen, dan Hindu.”

Seorang filsuf tidak bernama pernah bertanya kepadanya, “Mengapa kamu menjalankan tiga kepercayaan pada waktu yang bersamaan? Bukankah dengan melakukan itu, justru menunjukkan bahwa tak satu pun kepercayaan yang kau anut?” Namun, dia hanya menjawab dengan senyum penuh makna.

Banyak orang yang mengatakan dia gila. Tidak sedikit orang mengatakannya sebagai sumber bala. Sering kali dia: dicemooh, digunjing, dan dihina. Namun, dia orang baik. Tidak pernah ia mengganggu orang, meminta-minta, atau sekadar menggunjing. Hidupnya adalah berkeliling. Berjalan menyusuri kampung demi kampung, jalan demi jalan, menjual dan menawarkan buku. Dia tidak pernah mengambil untung besar. Setiap kali mempunyai uang lebih selalu ia berikan kepada pengemis. Senyum selalu ia tebar. Dan masyarakat: mulai menerimanya, sebagai seorang penganut tiga agama sekaligus.

****

Suatu fenomena langka terjadi. 1 Syawal jatuh pada tanggal 25 Desember tahun Masehi. Sungguh luar biasa, Hari Raya Nyepi pun jatuh pada hari yang sama. Masyarakat heran bercampur cemas. Heran karena tidak pernah terjadi di negeri ini: tiga kepercayaan merayakan hari raya bersamaan. Kecemasan dialamatkan pada kerusuhan atau pengeboman tempat ibadah. Pernah suatu waktu di ibu kota, pengeboman terjadi saat Natal. Malam Natal menjadi mencekam. Masyarakat Nasrani tidak berani keluar rumah. Natal yang tidak menyenangkan di negeri ini kala itu.

Gema takbir berkumandang sepanjang malam. Kembang api dan arak-arakan beduk memeriahkan malam. Kaum ibu disibukkan dengan olahan opor dan ketupat. Orang Kristen bersiap menyambut Natal keesokan hari. Semua bersuka ria. Kaum Hindu bersiap-siap melakukan nyepi. Seluruh pekerjaan dilakukan malam ini. Santap makan malam mengakhiri kegiatan mereka. Bulan terang.

****

Setiap tahun dia merayakan hari raya pada hari yang berbeda. Dia merayakan Natal di Gereja Kristen Indonesia, di pusat Kota Bekasi. Jarak gereja dengan kontrakannya sekitar sepuluh kilo. Tetangganya selalu memberi tumpangan. Penampilannya selalu sama. Gamis putih panjang terbentang mengikuti panjang kakinya. Digantung pada lehernya: salib dan tasbih. Sebagai penanda, dia seorang Kristen. Sebagai isyarat bahwa dia seorang Muslim. Dia mempunyai suara yang cukup merdu. Tidak jarang ia disuruh menyanyikan lagu Natal sambil memainkan piano. Natal demi Natal dilewatinya. Namun, dia kerap menghilang tiba-tiba layaknya Cinderella. Dia menyelinap keluar menuju masjid: salat Zuhur. Setelah itu kembali ke gereja, bernyanyi lagi.

Dia merayakan Nyepi sendirian di kontrakan. Tidak ada kegiatan yang dia lakukan. Makan pun tidak. Dia tidur dan sesekali bangun untuk salat. Tetangganya tidak pernah mengganggu, kecuali menguping secara diam-diam. Hanya tetangga yang menjadi teman berbagi pada Lebaran. Lebaran baginya terasa berkah. Ketupat sayur dan opor diberikan secara cuma-cuma. Meskipun, dia hanya dapat membalas dengan ucapan terima kasih. Dia salat Idul Fitri dengan penampilan yang sama. Gamis putih panjang terbentang mengikuti panjang kakinya. Digantung pada lehernya: salib dan tasbih. Sebagai penanda, dia seorang Kristen. Sebagai isyarat bahwa dia seorang Muslim.

Bertahun-tahun dia melewati Natal, Idul Fitri, dan Nyepi. Bermacam-macam orang telah menjadi saudaranya. Sebuah ruang yang sangat luas dalam masyarakat. Sosoknya sekarang tidak hanya diterima, tetapi juga mulai dicintai oleh saudara satu kepercayaannya.

****

Fajar menyingsing diikuti awan mendung. Takbir masih berkumandang sayup-sayup. Hujan turun rintik-rintik. Pagi yang dingin menyambut hari raya ketiga aliran kepercayaan di negeri ini. Semua bangun dengan malas, tetapi dengan suasana yang bergembira. Kaum Muslim telah menyelesaikan Subuhnya. Takbir berkumandang lagi. Anak-anak bergegas mandi. Orang-orang berbaju koko menghiasi jalan-jalan, lapangan, dan rumah-rumah. Masyarakat Hindu sudah memulai semedinya. Ada yang tidur. Ada yang duduk bersila. Sepi. Umat Kristiani siap bergegas menuju gereja. Sungguh meriah pagi itu. Dan mereka harus terus waspada.

Satu hal yang menjadi teka-teki bagi masyarakat. Ke manakah dia akan pergi? Kepercayaan manakah yang akan lebih dipilihnya? Pembicaraan ini berlangsung hangat di kalangan masyarakat. Kaum Kristiani yakin bahwa dia akan datang ke gereja untuk merayakan Natal. Kaum Muslim sangat berharap salat Ied bersama dengannya. Masyarakat Hindu yakin dia tidak akan keluar seharian dari rumahnya. Pembicaraan berlangsung dari mulut ke mulut, dari kampung ke kampung, dari kepercayaan ke kepercayaan yang lain. Semakin hangat. Semua menunggu. Semua berharap. Dan mereka harus terus waspada.

****

Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Kaum Muslim bergegas. Dari arah utara masjid terlihat beberapa orang lari mengejar waktu. Namun, dia tidak tampak dari kerumunan orang yang sedang berlari tersebut. Kaum Kristiani tersenyum lebar. Mereka semakin yakin dia akan memilih untuk mengikuti Natal dan bernyanyi memimpin di depan. Seorang masyarakat Hindu mengintip dari dalam rumahnya, kemudian menghilang lagi di balik jendela. Masyarakat Hindu dan kaum Kristen kegirangan dalam hati. Pagi menunjukkan jam delapan. Salat Ied berlangsung dengan khidmat. Dia tidak terlihat di masjid mana pun.

Salat Ied selesai. Kaum Muslim merayakan Idul Fitri tanpa kehadiran sosoknya. Muslim yang bersahabat dengannya sangat kecewa. Berangsung-angsur pulang. Beberapa di antaranya mengunjungi makam, sekadar memberikan Al-Fatihah kepada ahli kubur. Beberapa lainnya bersalam-salaman mengunjungi seluruh sanak saudara. Beberapa lainnya lagi kecewa. Pembicaraan kembali berlangsung. Hangat dan semakin hangat. Antara Muslim dengan Muslim. Antara Kristen dengan Kristen. Antara Muslim dengan Kristen. Sementara, masyarakat Hindu semakin khusyuk dengan semedinya. Dan mereka harus terus waspada.

Langit masih mendung. Rintik hujan sudah tidak menetes lagi. Namun, udara semakin dingin. Dan mereka harus terus waspada. Kini kemungkinannya tersisa dua: dia memilih untuk mengikuti Natal atau melakukan nyepi. Semua orang-masih bertanya-tanya.

“Aku bertaruh dia akan berangkat ke gereja sebentar lagi,” ujar seorang kaum Kristiani.

“Saya rasa tidak. Dia sedang nyepi. Coba lihat, sepi sekali kontrakannya,” kata seorang Muslim.

“Sebentar lagi dia akan meminta tumpangan kepadaku.”

“Kita lihat saja nanti.”

Opor dan ketupat sayur diberikan kepada kaum Kristiani, kemudian seorang Muslim itu kembali ke rumahnya. Seorang Hindu sesekali mengintip ke jendela kontrakan. Gelap. Tidak ada cahaya lampu sama sekali. Orang ini semakin yakin bahwa dia sedang melakukan nyepi. Orang Hindu ini tersenyum lebar. Kembali lenyap di balik kesunyian. Dan mereka harus terus waspada.

Matari mulai menunjukkan taringnya. Udara menjadi agak terik. Sayup-sayup takbir masih terdengar. Dingin pupus menjadi panas dan hari ini merupakan hari raya tiga kepercayaan di negeri ini.

“Dia akan menyanyi bersamaku di depan gereja nanti,” kata seorang Kristiani.

“Tidak. Dia akan memilih bernyanyi denganku karena aku lebih cantik darimu,” kata seorang Kristiani lain.

“Suaraku lebih indah dibandingkan suaramu!”

“Mengapa kita tidak bernyanyi bertiga?”

“Tidak. Dia hanya akan bernyanyi denganku.”

“Kamu yakin dia akan datang?”

“Pasti”

Siang berjalan lambat. Terik dan terik. Kaum Muslim sudah selesai dengan urusan halal bi halal. Takbir masih bergema sesekali. Natal berlangsung khidmat. Masyarakat Hindu telah menunaikan seperempat waktu Nyepinya. Namun, dia belum juga menampakkan batang hidungnya. Masih gelap. Sekilas tetangga Hindunya mengintip lagi. Keyakinannya semakin menjadi-jadi. Tersenyum dan kembali bersemedi.

Penasaran. Semua orang penasaran. Beberapa kaum Kristiani sudah kembali dari gereja. Pembicaraan hangat kembali terjadi. Bagaimana dan mengapa merupakan dua pertanyaan yang paling sering diperbincangkan. Pembicaraan berlangsung dari mulut ke mulut, dari kampung ke kampung, dari kepercayaan ke kepercayaan yang lain. Dan mereka harus terus waspada.

Siang berganti sore. Sore berganti malam. Hujan turun, kali ini agak lebat. Jalanan sepi dan hari ini merupakan hari raya tiga kepercayaan di negeri ini. Semua umat Kristiani sudah kembali ke rumahnya.

“Sudah kubilang dia sedang Nyepi,” ujar seorang Muslim.

“Iya. Dia lebih memilih Hindu dibandingkan agama lain,” sahut seorang Kristiani.

“Mengapa bisa seperti itu, ya?”

“Mungkin dia lebih percaya pada Tuhan Hindunya.”

“Lalu dia tidak percaya pada Tuhanku?”

“Ya. Mungkin tidak percaya juga pada Tuhanku.”

“Ya. Mungkin.”

Malam makin larut. Hari sudah tengah malam. Hujan sudah berhenti tiga jam lalu. Seorang tetangga Hindu kembali mengintip ke kontrakan untuk terakhir kalinya. Tersenyum penuh kemenangan. Tidur dengan sangat nyenyak. Malam semakin sepi.

****

Banyak orang yang mengatakan dia gila. Tidak sedikit orang mengatakannya sebagai sumber bala. Sering kali dia: dicemooh, digunjing, dan dihina. Penampilannya tidak pernah berubah. Gamis putih panjang terbentang mengikuti panjang kakinya. Digantung pada lehernya: salib dan tasbih. Sebagai penanda, dia seorang Kristen. Sebagai isyarat bahwa dia seorang Muslim. Dia pernah berkata bahwa ia punya tiga agama: Islam, Kristen, dan Hindu. Namun, dia tidak berlebaran dan dia tidak merayakan Natal.

Pagi yang cerah bagi masyarakat Hindu. Dia tidak menghadiri Natal dan tidak berlebaran. Kontrakannya gelap sepanjang hari. Tidak terdengar suara apa pun.

“Benar firasatku, dia Hindu yang taat,” ujar seorang Hindu.

“Untuk apa dia mengenakan salib?” Sahut seorang Kristiani.

“Tak tahu.”

“Lalu mengapa ia mengenakan bajunya gamis putih dan tasbih di lehernya?” Tanya seorang Muslim.

 “Ya. Dia hanya memakai dua tanda kepercayaan itu,” jawab seorang Hindu.

Perbincangan terus berlangsung. Hangat dan bertambah hangat. Satu hari setelah hari raya tiga kepercayaan di negeri ini. Udara cukup panas. Matari tepat di atas bumi, tetapi yang jadi bahan pembicaraan belum juga muncul.

“Mengapa sesiang ini dia belum juga keluar?” Tanya seorang Muslim.

“Bukankah Nyepi berlangsung hanya satu hari?” kata seorang Kristiani.

“Iya. Nyepi dilakukan satu hari penuh. Seharusnya jam enam tadi sudah selesai,” jawab seorang Hindu.

“Mungkinkah ia masih tidur?”

“Lampu kontrakannya masih mati.”

“Atau dia mati?”

“Mustahil”

“Kita tunggu saja sampai jam satu siang ini. Jika tidak ada perkembangan, kita terpaksa masuk.”

Semua masyarakat berkumpul di depan kontrakan. Pembicaraan berlangsung. Mempertanyakan mengapa dia tidak keluar setelah satu hari penuh Nyepi. Hangat dan semakin hangat. Semua orang kebingungan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam kontrakan. Lampu mati dan tidak ada suara apa pun.

“Dia mati.”

“Tidak mungkin.”

“Ayo segera periksa.”

Akhirnya, masyarakat terpaksa masuk, tepat jam satu siang. Seorang Muslim mendobrak pintu. Nihil! Hasilnya nihil! Dia tidak ada di kontrakan itu. Suasana hening tidak terelakkan. Semua orang terbengong. Bingung. Kaget. Seorang Hindu kecewa karena ternyata dia tidak melakukan nyepi. Semua orang tidak dapat berpikir. Kosong. Hening.

“Ada apa ini ramai sekali?”

Pertanyaan itu memecah keheningan. Semua melihat ke arah yang bertanya.

“Hei, itu dia”

“Hei, dari mana saja kau? Tidakkah kau merayakan salah satu dari ketiga kepercayaanmu?” Tanya seorang Muslim.

“Tidak. Kemarin baru saja aku menjadi seorang Buddha.”

Banyak orang yang mengatakan dia gila. Tidak sedikit orang mengatakannya sebagai sumber bala. Sering kali dia: dicemooh, digunjing, dan dihina. Penampilannya kini sedikit berbeda. Gamis putih panjang terbentang mengikuti panjang kakinya. Digantung pada lehernya: salib dan tasbih. Sebagai penanda, dia seorang Kristen. Sebagai isyarat bahwa dia seorang Muslim. Kepalanya sekarang benar-benar botak, seperti biksu. Dia pernah berkata bahwa ia punya tiga agama: Islam, Kristen, dan Hindu. Namun, semua itu bohong. Dia punya empat sekarang. Salah satunya baru dipercayainya kemarin, ketika ketiga kepercayaan sebelumnya merayakan hari raya.

Anak Tukang Azan

Habil berlari sambil membawa air matanya. Ibunya yang sedang menampih beras di teras bangkit menyambut anak sematawayangnya itu. Dipeluknya anak itu dengan penuh kasih sayang. Diseka lembut air mata sang anak yang masih mengucur deras. Dibelai manis rambutnya yang ikal itu. Perlahan tangisnya mereda. Dengan sesegukan Habil mengadu, merengek tak keruan.

“Umi … masa aku diejek temanku, Mi. Mereka meneriakiku ‘anak tukang azan’ berkali-kali sambil tertawa tanpa henti. Habil anak tukang azan … Habil anak tukang azan,” katanya menirukan ejekan teman-temannya.

Loh, memangnya kenapa kalau anak tukang azan?” kata ibunya memprotes.

“Malu, Umi. Aku malu.”

“Kenapa harus malu?”

“Habisnya mereka bilang, tukang azan itu pengangguran. Tidak punya pekerjaan.” Habil meminta pembenaran.

“Siapa bilang tidak punya pekerjaan? Abimu kan mengajar ngaji juga.”

“Tapi, kata temanku ngajar ngaji nggak bisa dapat uang. Beda sama ayah temanku yang jadi dokter dan tentara.”

“Rezeki di tangan Tuhan, Nak. Pekerjaan apa pun baik, asalkan halal.”

“Pokoknya aku malu, Mi. Kenapa sih Abi dulu tidak menjadi dokter aja? Kenapa sih malah jadi tukang azan?” Habil melepas pelukan ibunya. Cukup lama ibunya terdiam, tak mampu menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari anak kesayangannya itu.

“Sudah, begitu saja nangis. Jangan malu lagi ya,” jawab ibunya sekenanya.

“Yang diejek kan aku, Mi, bukan Umi. Yang malu aku.” Tangis Habil pecah lagi.

“Tapi, Nak!”

Belum sempat ibunya menjawab, Habil sudah berlari ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Kini tangis ibunya yang pecah. Terngiang sosok suaminya yang sempurna di matanya. Seorang lelaki saleh yang sangat mencintainya. Seorang muazin dengan suara indah. Seorang guru ngaji nan sabar dan penuh kasih sayang. Namun, kini suaminya telah tiada.

Habil telah lama menjadi yatim. Ayahnya mengidap kanker saat Habil berusia enam tahun dan wafat setahun kemudian. Kini ia hanya hidup berdua dengan ibunya. Sang ibu kini menjadi guru ngaji menggantikan suaminya. Ibunya menerima pemberian warga secara sukarela. Meskipun, tak jarang pemberian itu hanya ucapan terima kasih. Setiap pagi dia berjualan nasi uduk sebagai penghidupan keluarganya.

*****

Habil tumbuh menjadi anak yang saleh. Ia selalu shalat tepat waktu. Setiap Maghrib ia membaca Alquran dipantau langsung oleh ibunya. Tapi, ada satu kebaikan yang belum pernah dilakukannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengumandangkan azan. Ia tidak ingin diolok-olok temannya lagi. Janji itu dipegang sampai sekarang, hingga dia berusia sebelas tahun.

Berkali-kali Habil diminta azan oleh warga masjid, berkali-kali pula ia menolaknya. Pernah sekali ia ditanya mengapa tak pernah mau azan. Habil hanya menjawabnya dengan senyum penuh makna dan mempersilakan jamaah lainnya untuk azan. Hal ini pun sudah diketahui sang ibu.

Umi Habil sangat kecewa atas sikap anak satu-satunya itu. Padahal, ia tahu bahwa suara anaknya begitu merdu dan fasih saat membaca Alquran. Terbersit dalam ingatannya, suaminya yang sangat ingin Habil menjadi muazin.

“Aku ingin nanti Habil suka azan di masjid, meskipun tidak menjadi muazin. Aku ingin suaranya menyerukan panggilan Allah.”

“Ya, semoga anak kita menjadi anak yang saleh. Mengapa harus suka azan, Bi?” kata Umi Habil menimpali.

“Seorang muazin akan diberi ampunan sejauh suaranya terdengar serta dibenarkan oleh orang yang mendengarkannya, baik yang masih basah maupun yang sudah kering. Baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakan shalat dengannya,” kata suaminya mengutip sebuah hadis.

Namun, sang ibu tak mau melukai perasaan anaknya. Ia tak mau Habil malu karena diolok-olok temannya lagi. Ia pun membiarkan Habil dengan janjinya itu.

*****

Umi Habil mendadak sakit. Ia terkena demam berdarah, tapi tidak segera berobat.

“Umi, jangan tinggalin Habil. Habil nggak mau sendirian.”

“Sabar, Nak. Sabar. Ajal sudah memanggil Umi, Bil.”

“Ambil surat ini dan bacalah saat Umi dikuburkan.”

“Apa ini, Umi?”

Ibunya tak lagi menjawab, hanya tersenyum lemah kepada anaknya. Beberapa saat dibacakannya syahadat dengan suara berbisik.

“Umiiiiiiiii!”

Tangis Habil tumpah. Diguncangkan badan ibunya. Diciuminya dengan air mata kesedihan. Habil pingsan.

*****

Duka Habil belum habis. Matanya sayu karena kurang tidur. Suaranya pun serak seakan sedang flu berat. Tak henti-hentinya dia membaca surah Yaasin hingga azan Subuh berkumandang. Sehabis shalat Subuh ia tertidur hingga ibunya sudah dimandikan dan dibungkus kafan. Diciuminya kening ibunya untuk terakhir kalinya. Teringat kembali saat-saat ibunya merawatnya dari kecil: menyuapinya, menggendongnya, mengajarkan membaca Alquran, menasihatinya. Terekam pula kebahagiaan Habil bersama Abi dan Uminya. Namun, kali ini Habil tak menangis, barangkali habis air matanya.

Jenazah ibunya dibawa iring-iringan keluarga ke masjid dekat rumahnya. Habil pergi mengambil wudhu. Pada saat bersamaan azan Zhuhur berkumandang. Gerakan wudhunya tiba-tiba terhenti. Habil teringat kembali Abinya yang dahulu seorang muazin. Betapa dia benci dengan pekerjaan ayahnya itu. Sampai-sampai Habil berjanji untuk tidak azan dalam hidupnya.

Suara muazin kala itu begitu merdu sehingga hati Habil tergetar. Habil teringat saat-saat diejek teman-teman SD-nya. Saat-saat di mana dia begitu dipermalukan sebagai anak seorang muazin.

Teringat pula ia akan surat yang diberikan ibunya sesaat sebelum meninggal. Namun, ia lupa di mana menaruh surat tersebut. Pikirannya pun tertuju pada surat itu. Sebab, ibunya berpesan untuk membuka surat itu saat akan dimakamkan. Habil pun mulai merogoh kantong-kantongnya. Tidak ada.

Habil panik sebab surat itulah satu-satunya wasiat yang diberikan kepadanya. Ia kemudian bertanya kepada salah seorang sepupunya perihal surat wasiat itu. Ternyata surat itu sudah disimpan oleh keluarganya itu saat ibu Habil meninggal.

*****

Matari cerah, namun gerimis turun dengan rintik yang sangat kecil. Iring-iringan jenazah begitu ramai. Maklum, hampir semua warga anaknya pernah diajari ngaji oleh Abi dan Umi Habil. Terlihat oleh Habil liang lahat yang akan menjadi tempat peristirahatan ibunya itu. Di sisi kanan kirinya tertumpuk tanah merah yang siap membenamkan jasad sang ibu. Begitu pun penggali kubur. Mereka siap dengan paculnya masing-masing. Keluarga, teman, dan warga setempat tumpah ruah di permakaman itu. Beberapa ulama pun turut menemani.

Habil terlihat lebih tegar. Tidak terlihat lagi air mata yang keluar. Bahkan, beberapa kali dia melempar senyum sebagai tanda terima kasih. Ia mengenakan koko dan peci dengan warna putih senada. Yang dipikirkannya cuma satu: apa isi dari surat tersebut. Ia pun bertanya-tanya dalam hati, mengapa ibunya meminta surat itu dibuka pada saat akan dikuburkan. Jawaban atas pertanyaan itu pun akan ia dapatkan sekarang.

Sepupunya memberikan surat itu kepada Habil saat jenazah akan diletakkan di liang lahat. Perlahan Habil membuka surat itu, yang ternyata berisi secarik kertas kecil berbunyi:

“Azani Umi dengan suara indahmu.”

Habil gemetar. Kakinya goyah. Wajahnya kosong. Masih belum percaya dia dengan wasiat ibunya itu. Sesaat kemudian seorang ulama membaca pula wasiat itu dan menyadarkan Habil.

“Sudah, ayo azani, Bil. Jangan lupa baca bismillah,” kata ulama itu singkat. Habil tak menjawab, tapi tanpa sadar sudah turun perlahan ke liang lahat.

“Bismillahirahmanirahim,” ucap Habil lemah.

“Allahhu Akbar Allahhu Akbar

Allahhu Akbar Allahhu Akbar.” Habil memulai azan dengan suara lantang. Begitu merdu suaranya sehingga suasana menjadi hening dan khidmat.

“Ashaduala illahailallah. Ashaduala illahailallah.”

“Ashaduanna Muhammadarasulullah. Ashaduanna Muhammadarasulullah.” Suaranya Habil makin berat, seakan memendam kedukaan yang mendalam.

“Haialashalaaaaa … Haialas….” Habil mendadak berhenti. Ia pandangi wajah ibunya yang sudah tergeletak, terbungkus kafan. Tak sanggup dia mengeluarkan suaranya, kalah dari rasa pedihnya. Tumpah ruah segala kenangan indah Habil bersama Abi dan Uminya. Kenangan saat shalat berjamaah bersama, makan bersama, berbuka puasa bersama, berpuasa bersama. Timbul penyesalan hebat dalam hatinya karena telah malu berayah seorang muazin. Menyesal pula karena telah berjanji tidak azan hanya karena malu. Air mata membajiri wajahnya, juga suaranya. Hadirin pun turut menangis, seakan-akan yang meninggal saudara sendiri. Habil sesegukan dan melanjutkan azannya:

“Haialashalaaaaa…”

“Haialal falaaaaah. Haialal falaaaaah.” Suara Habil menderu keras bercampur pedih seakan mengingatkan hadirin akan kematian.

“Allahu Akbar. Allahu Akbar.” Suara Habil kembali lantang.

“La illahailallah.”

Tanah basah. Wajah hadirin basah. Pun wajah Habil. Penggali kubur menjalankan tugasnya. Beberapa saat kemudian liang tadi berubah menjadi kuburan tanah. Ulama membacakan doa untuk terakhir kalinya dan diamini hadirin. Pemakaman pun usai. Hadirin pun berangsur pulang. Hari itu Habil tak hanya mengumangkan azan terakhir untuk ibunya, tapi juga azan awal dalam hidupnya.

Tanya seorang kakek

Wanita seperti apa yang kau mau, nak?
wanita yang baik, jawab seorang cucu
rupanya?
yang putih, tak jarang mandi.
bagaimana dengan tubuhnya?
yang mampu menampung badanku untuk tertindih
rambutnya?
lurus, tanpa kelok.
bagaimana dengan matanya?
biru, seperti langit.
hidungnya?
tak boleh pesek, untuk memperbaiki keturunanku.
bibirnya?
nakal, senakal remaja yang belum cukup umur
bagaimana dengan mulutnya?
mulut yang pandai berbisik.
lalu tangannya hanya dua?
ya, cukup untuk membuatkan aku masak; cukup untuk membuatkan aku kopi hangat.
dadanya harus besar?
tidak, cukup untuk membuat penuh kedua tanganku
bagaimana dengan kakinya?
gesit seperti kuda.
jadi, itu wanita yang kau inginkan?
sahaya, kakek.
begitu tinggi hargamu, sehingga engkau lupakan sesuatu.
hati nak, hati. Hati akan menemani dalam sepi dan senang.
hati akan selalu tabah.
hati akan selalu menang. mengalahkan: bibir yang nakal; mulut yang pandai berbisik; atau tubuh yang bisa menahan tindihanmu.
kek!

PAGI!

PAGI!
Hiruk pikuk pantat masih ngadet
Jalanan macet, kaki menginjak tai
Jemuran ngambek, bulan yang melotot
Lontong sayur Rp. 2000, oh…murahnya.
Ketek basah,
pancasila jadi rukun iman: yang keenam adalah korupsi
innalilahi wa innailaihi rojiun: makanan jatuh
anak laki memegang teteknya, lalu berkata
ini adalah perubahan!
Dan nyanyian kentongan mie ayam berbisik: pada tembako lima ribuan
BBM mau naik!
Dan ketek mengering, jalanan lancar, tai-tai sudah dibuang ke septic-tank,
Alhamdulillah
Anak laki sudah gendut, netes ilernya ke tanah.
Dan perempuan mabok, semabok-maboknya.
Bekasi.6 maret 2012

Sapardi Djoko Damono dan Rahasia Puisi Hujannya

ketika itu: jalanan macet.
mataku hampir kalah dengan kantuk, aku tertidur. Perjalanan kami masih jauh.
Ya, kami. Aku dan Sapardi. Ya, Sapardi, penulis yang sangat kukagumi. Langit pelit menampilkan bintangnya. Kosong. Mendung menjamah, dan: Hujan turun.
Sapardi Djoko Damono: “kau suka hujan? kalau aku, sangat suka hujan”. Tiba-tiba ia bertanya.
Aku terbangun. Mengucek-ngucek mata, “ya,”
Sapardi Djoko Damono:menatap jendela mobil. Menonton hujan. Matanya hanyut sayu melihat keluar.
lalu kubertubi-tubi bertanya kepadanya.
“Mengapa kau suka hujan?
Ia terdiam
“Kau sangat mencintai hujan? Mengapa di setiap bait-bait puisimu terdapat kata hujan?”
Dia tertawa lepas. Hahahaha,
dengan tenang ia menjawab.
” Kan di Indonesia cuma ada dua musim, kemarau dan hujan
kalau aku tinggal di eropa, ya nulisnya tentang salju
haha” benar-benar sederhana dia, sampai-sampai aku lupa bahwa ia seorang pujangga ternama

8 Mei 2011, (Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis ketika mengantarkan Sapardi Djoko Damono ke Perumahan Dosen setelah mengikuti acara peringatan Reformasi di FIB UI)

Bang Timin: Sang Satpam yang Kelaparan

Jalanan sepi. malam menggigil. Saya masih dalam perjalanan pulang dari kampus di Depok menuju rumah saya di Bekasi. Saya lihat jam pada handphone saya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Jalanan nampak lengang sekali. Beberapa pedagang kaki lima mulai berkemas untuk pulang. Saya pacu motor saya dengan kecepatan enam sampai delapan puluh kilometer per jam. Malam itu sehari sebelum batas waktu tugas penpop ini dikumpulkan, saya belum mewawancarai orang sebagai inspirasi tulisan saya.
Tepat pukul sebelas lebih sepuluh menit, saya hentikan motor saya di depan pos satpam. Pintu masuk menuju komplek perumahan saya sudah ditutup dengan palang. Memang biasanya jam sebelas malam sudah harus ditutup. Di balik jendela pos satpam, sekilas nampak seorang bapak sedang menonton televisi.
“Pulang malam lagi ya?” suara nyaring Bapak itu memecah kesunyian malam itu dengan logat betawinya yang kental. Dia membuka palang pintu masuk sambil tersenyum ramah. Seorang Bapak dengan perawakan agak kurus ini sudah sangat mengantuk rupanya. Mukanya pucat. Matanya agak bengkak sehingga senyumannya terlihat terpaksa.
“Iya Bapak” saya membalas dengan senyuman pula. Langsung saja terlintas dalam pikiran saya untuk menjadikan Bapak Satpam ini sebagai bahan tulisan saya. saya parkirkan motor saya di depan pos satpam.
“Bapak sedang sibuk tidak, pak? saya mau mewawancarai Bapak untuk tugas kuliah” Saya tersenyum memelas.
“Wawancara apa bang? saya nggak ngerti yang begituan,” jawabnya kembali dengan logat betawi yang sangat kental. Saya kaget dan kecewa dengan jawaban Bapak ini.

“Kalau mengobrol bias, pak?” saya masih berharap Bapak ini menerima tawaran wawancara saya. Malam semakin dingin. Suara ketokan pedagang mie ayam keliling memecah sepinya malam. Saya memanggil pedagang itu dan memesan dua mangkuk untuk kami berdua. Kami menyantap mie ayam di dalam kantor pos, sepetak ruangan yang sempit dengan televisi yang digantung di pojok atas pos. Di dalam ruangan itu terdapat kipas angin yang menggantung yang bergerak pelan. Kami mulai menyantap mie ayam.dia menyantap dengan lahapnya. Sambil menyantap mie ayam saya memulai bertanya.
“Nama Bapak siapa pak? Saya membuka dengan pertannyaan.
“Jangan panggil bapak bang, panggil aja bang Timin. Saya biasa dipanggil seperti itu.”
“Wah abang orang betawi ya? Sama dong bang.haha. Sudah dari kapan bang jadi satpam?
“Udah lama dong. udah enam tahun” Jawabnya sambil menyeruput mie ayam.
“Abang suka jadi satpam? Enak nggak bang jadi satpam?”
“Ya enak nggak enak. Enaknya kerjanya cuma duduk-duduk sambil berjaga. Enggak enaknya ya enggak bisa tidur”. Sambil melahap lagi mie ayamnya. Mie ayamnya hampir habis.nampaknya Satpam ini sangat lapar. Saya pesankan satu mangkuk mie ayam lagi untuknya.
“Abang lapar ya bang? hehe” Saya bertanya usil.
“Iya. Saya belum makan dari pagi.” Jawabnya sambil menegur kuah mie ayam terakhirnya.
“Wah. Kalau gitu makan lagi tuh bang mie ayamnya”.
“Wah.Makasih ya,” Ia tersenyum sambil mengintip pedagang mie ayam menyediakan mangkuk keduanya.
“Selain jadi satpam, kerja apa lagi bang?” saya membuka pertanyaan lagi.
“Saya jadi pengurus mesjid” Ia menjawab sambil memulai mangkuk keduanya.
“Wah. Abang jadi apa? kerjanya apa aja bang?”
“Kerjanya ya bersih bersih, menyapu mesjid, mengepel, pokoknya bersih bersih” jawabnya dengan mulut yang penuh mie ayam.
“Oh. Selain menjadi satpam menjadi pengurus mesjid juga ya. Mulia sekali bang kerjanya”.
Bang Timin tidak mampu menjawab karena mulutnya penuh dengan mie. Mie ayam saya sudah habis. Saya memutuskan untuk menyudahi obrolan kami.
“Bang, pulang dulu ya bang”.
“Loh. Enggak jadi wawancara?” Ia melotot kaget.
“Tadi udah bang” Saya menjawab dengan senyuman. Malam sudah hampir larut. Saya pamit dengan meninggalkan kebingungan oleh Bang Timin. Saya membayar ketiga mangkuk mie ayam tadi. Saya menghidupkan motor saya pulang ke rumah.