Bang Timin: Sang Satpam yang Kelaparan

Jalanan sepi. malam menggigil. Saya masih dalam perjalanan pulang dari kampus di Depok menuju rumah saya di Bekasi. Saya lihat jam pada handphone saya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Jalanan nampak lengang sekali. Beberapa pedagang kaki lima mulai berkemas untuk pulang. Saya pacu motor saya dengan kecepatan enam sampai delapan puluh kilometer per jam. Malam itu sehari sebelum batas waktu tugas penpop ini dikumpulkan, saya belum mewawancarai orang sebagai inspirasi tulisan saya.
Tepat pukul sebelas lebih sepuluh menit, saya hentikan motor saya di depan pos satpam. Pintu masuk menuju komplek perumahan saya sudah ditutup dengan palang. Memang biasanya jam sebelas malam sudah harus ditutup. Di balik jendela pos satpam, sekilas nampak seorang bapak sedang menonton televisi.
“Pulang malam lagi ya?” suara nyaring Bapak itu memecah kesunyian malam itu dengan logat betawinya yang kental. Dia membuka palang pintu masuk sambil tersenyum ramah. Seorang Bapak dengan perawakan agak kurus ini sudah sangat mengantuk rupanya. Mukanya pucat. Matanya agak bengkak sehingga senyumannya terlihat terpaksa.
“Iya Bapak” saya membalas dengan senyuman pula. Langsung saja terlintas dalam pikiran saya untuk menjadikan Bapak Satpam ini sebagai bahan tulisan saya. saya parkirkan motor saya di depan pos satpam.
“Bapak sedang sibuk tidak, pak? saya mau mewawancarai Bapak untuk tugas kuliah” Saya tersenyum memelas.
“Wawancara apa bang? saya nggak ngerti yang begituan,” jawabnya kembali dengan logat betawi yang sangat kental. Saya kaget dan kecewa dengan jawaban Bapak ini.

“Kalau mengobrol bias, pak?” saya masih berharap Bapak ini menerima tawaran wawancara saya. Malam semakin dingin. Suara ketokan pedagang mie ayam keliling memecah sepinya malam. Saya memanggil pedagang itu dan memesan dua mangkuk untuk kami berdua. Kami menyantap mie ayam di dalam kantor pos, sepetak ruangan yang sempit dengan televisi yang digantung di pojok atas pos. Di dalam ruangan itu terdapat kipas angin yang menggantung yang bergerak pelan. Kami mulai menyantap mie ayam.dia menyantap dengan lahapnya. Sambil menyantap mie ayam saya memulai bertanya.
“Nama Bapak siapa pak? Saya membuka dengan pertannyaan.
“Jangan panggil bapak bang, panggil aja bang Timin. Saya biasa dipanggil seperti itu.”
“Wah abang orang betawi ya? Sama dong bang.haha. Sudah dari kapan bang jadi satpam?
“Udah lama dong. udah enam tahun” Jawabnya sambil menyeruput mie ayam.
“Abang suka jadi satpam? Enak nggak bang jadi satpam?”
“Ya enak nggak enak. Enaknya kerjanya cuma duduk-duduk sambil berjaga. Enggak enaknya ya enggak bisa tidur”. Sambil melahap lagi mie ayamnya. Mie ayamnya hampir habis.nampaknya Satpam ini sangat lapar. Saya pesankan satu mangkuk mie ayam lagi untuknya.
“Abang lapar ya bang? hehe” Saya bertanya usil.
“Iya. Saya belum makan dari pagi.” Jawabnya sambil menegur kuah mie ayam terakhirnya.
“Wah. Kalau gitu makan lagi tuh bang mie ayamnya”.
“Wah.Makasih ya,” Ia tersenyum sambil mengintip pedagang mie ayam menyediakan mangkuk keduanya.
“Selain jadi satpam, kerja apa lagi bang?” saya membuka pertanyaan lagi.
“Saya jadi pengurus mesjid” Ia menjawab sambil memulai mangkuk keduanya.
“Wah. Abang jadi apa? kerjanya apa aja bang?”
“Kerjanya ya bersih bersih, menyapu mesjid, mengepel, pokoknya bersih bersih” jawabnya dengan mulut yang penuh mie ayam.
“Oh. Selain menjadi satpam menjadi pengurus mesjid juga ya. Mulia sekali bang kerjanya”.
Bang Timin tidak mampu menjawab karena mulutnya penuh dengan mie. Mie ayam saya sudah habis. Saya memutuskan untuk menyudahi obrolan kami.
“Bang, pulang dulu ya bang”.
“Loh. Enggak jadi wawancara?” Ia melotot kaget.
“Tadi udah bang” Saya menjawab dengan senyuman. Malam sudah hampir larut. Saya pamit dengan meninggalkan kebingungan oleh Bang Timin. Saya membayar ketiga mangkuk mie ayam tadi. Saya menghidupkan motor saya pulang ke rumah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s