Sapardi Djoko Damono dan Rahasia Puisi Hujannya

ketika itu: jalanan macet.
mataku hampir kalah dengan kantuk, aku tertidur. Perjalanan kami masih jauh.
Ya, kami. Aku dan Sapardi. Ya, Sapardi, penulis yang sangat kukagumi. Langit pelit menampilkan bintangnya. Kosong. Mendung menjamah, dan: Hujan turun.
Sapardi Djoko Damono: “kau suka hujan? kalau aku, sangat suka hujan”. Tiba-tiba ia bertanya.
Aku terbangun. Mengucek-ngucek mata, “ya,”
Sapardi Djoko Damono:menatap jendela mobil. Menonton hujan. Matanya hanyut sayu melihat keluar.
lalu kubertubi-tubi bertanya kepadanya.
“Mengapa kau suka hujan?
Ia terdiam
“Kau sangat mencintai hujan? Mengapa di setiap bait-bait puisimu terdapat kata hujan?”
Dia tertawa lepas. Hahahaha,
dengan tenang ia menjawab.
” Kan di Indonesia cuma ada dua musim, kemarau dan hujan
kalau aku tinggal di eropa, ya nulisnya tentang salju
haha” benar-benar sederhana dia, sampai-sampai aku lupa bahwa ia seorang pujangga ternama

8 Mei 2011, (Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis ketika mengantarkan Sapardi Djoko Damono ke Perumahan Dosen setelah mengikuti acara peringatan Reformasi di FIB UI)

Iklan

One thought on “Sapardi Djoko Damono dan Rahasia Puisi Hujannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s