Hari Perbedaan

Banyak orang yang mengatakan dia gila. Tidak sedikit orang mengatakannya sebagai sumber bala. Sering kali dia: dicemooh, digunjing, dan dihina. Dia miskin dan hidup sebatang kara. Istrinya sudah lama mati kena kanker. Sanak saudaranya tidak pernah mengakuinya. Dia hidup di negeri miskin dalam segi harta. Di kota pembuangan, Bekasi, dia tinggal mengontrak dan hidup sebagai penjual buku keliling.

Badannya kurus. Tubuhnya setinggi orang negeri ini kebanyakan. Kulitnya cokelat agak hitam. Gamis putih panjang terbentang mengikuti panjang kakinya. Digantung pada lehernya: salib dan tasbih. Sebagai penanda, dia seorang Kristen. Sebagai isyarat bahwa dia seorang Muslim. Rambut panjangnya tumbuh liar melewati pundak. Matanya tidak pernah kosong, selalu memandang ke depan.

Kegiatan rutinnya beribadat. Jumat siang, ketika matari tepat di atas bumi, dia bersujud pada Tuhannya. Setiap Minggu pagi dia menyembah di tempat yang lain. Minggu siang, dia bermunajat di tempat lain lagi. Tak pernah ia memakan babi. Tak pernah ia memakan sapi. Tak pernah pula ia menikah lagi. Pernah dia berbual kepada salah satu penduduk kota, “Saya punya tiga agama: Islam, Kristen, dan Hindu.”

Seorang filsuf tidak bernama pernah bertanya kepadanya, “Mengapa kamu menjalankan tiga kepercayaan pada waktu yang bersamaan? Bukankah dengan melakukan itu, justru menunjukkan bahwa tak satu pun kepercayaan yang kau anut?” Namun, dia hanya menjawab dengan senyum penuh makna.

Banyak orang yang mengatakan dia gila. Tidak sedikit orang mengatakannya sebagai sumber bala. Sering kali dia: dicemooh, digunjing, dan dihina. Namun, dia orang baik. Tidak pernah ia mengganggu orang, meminta-minta, atau sekadar menggunjing. Hidupnya adalah berkeliling. Berjalan menyusuri kampung demi kampung, jalan demi jalan, menjual dan menawarkan buku. Dia tidak pernah mengambil untung besar. Setiap kali mempunyai uang lebih selalu ia berikan kepada pengemis. Senyum selalu ia tebar. Dan masyarakat: mulai menerimanya, sebagai seorang penganut tiga agama sekaligus.

****

Suatu fenomena langka terjadi. 1 Syawal jatuh pada tanggal 25 Desember tahun Masehi. Sungguh luar biasa, Hari Raya Nyepi pun jatuh pada hari yang sama. Masyarakat heran bercampur cemas. Heran karena tidak pernah terjadi di negeri ini: tiga kepercayaan merayakan hari raya bersamaan. Kecemasan dialamatkan pada kerusuhan atau pengeboman tempat ibadah. Pernah suatu waktu di ibu kota, pengeboman terjadi saat Natal. Malam Natal menjadi mencekam. Masyarakat Nasrani tidak berani keluar rumah. Natal yang tidak menyenangkan di negeri ini kala itu.

Gema takbir berkumandang sepanjang malam. Kembang api dan arak-arakan beduk memeriahkan malam. Kaum ibu disibukkan dengan olahan opor dan ketupat. Orang Kristen bersiap menyambut Natal keesokan hari. Semua bersuka ria. Kaum Hindu bersiap-siap melakukan nyepi. Seluruh pekerjaan dilakukan malam ini. Santap makan malam mengakhiri kegiatan mereka. Bulan terang.

****

Setiap tahun dia merayakan hari raya pada hari yang berbeda. Dia merayakan Natal di Gereja Kristen Indonesia, di pusat Kota Bekasi. Jarak gereja dengan kontrakannya sekitar sepuluh kilo. Tetangganya selalu memberi tumpangan. Penampilannya selalu sama. Gamis putih panjang terbentang mengikuti panjang kakinya. Digantung pada lehernya: salib dan tasbih. Sebagai penanda, dia seorang Kristen. Sebagai isyarat bahwa dia seorang Muslim. Dia mempunyai suara yang cukup merdu. Tidak jarang ia disuruh menyanyikan lagu Natal sambil memainkan piano. Natal demi Natal dilewatinya. Namun, dia kerap menghilang tiba-tiba layaknya Cinderella. Dia menyelinap keluar menuju masjid: salat Zuhur. Setelah itu kembali ke gereja, bernyanyi lagi.

Dia merayakan Nyepi sendirian di kontrakan. Tidak ada kegiatan yang dia lakukan. Makan pun tidak. Dia tidur dan sesekali bangun untuk salat. Tetangganya tidak pernah mengganggu, kecuali menguping secara diam-diam. Hanya tetangga yang menjadi teman berbagi pada Lebaran. Lebaran baginya terasa berkah. Ketupat sayur dan opor diberikan secara cuma-cuma. Meskipun, dia hanya dapat membalas dengan ucapan terima kasih. Dia salat Idul Fitri dengan penampilan yang sama. Gamis putih panjang terbentang mengikuti panjang kakinya. Digantung pada lehernya: salib dan tasbih. Sebagai penanda, dia seorang Kristen. Sebagai isyarat bahwa dia seorang Muslim.

Bertahun-tahun dia melewati Natal, Idul Fitri, dan Nyepi. Bermacam-macam orang telah menjadi saudaranya. Sebuah ruang yang sangat luas dalam masyarakat. Sosoknya sekarang tidak hanya diterima, tetapi juga mulai dicintai oleh saudara satu kepercayaannya.

****

Fajar menyingsing diikuti awan mendung. Takbir masih berkumandang sayup-sayup. Hujan turun rintik-rintik. Pagi yang dingin menyambut hari raya ketiga aliran kepercayaan di negeri ini. Semua bangun dengan malas, tetapi dengan suasana yang bergembira. Kaum Muslim telah menyelesaikan Subuhnya. Takbir berkumandang lagi. Anak-anak bergegas mandi. Orang-orang berbaju koko menghiasi jalan-jalan, lapangan, dan rumah-rumah. Masyarakat Hindu sudah memulai semedinya. Ada yang tidur. Ada yang duduk bersila. Sepi. Umat Kristiani siap bergegas menuju gereja. Sungguh meriah pagi itu. Dan mereka harus terus waspada.

Satu hal yang menjadi teka-teki bagi masyarakat. Ke manakah dia akan pergi? Kepercayaan manakah yang akan lebih dipilihnya? Pembicaraan ini berlangsung hangat di kalangan masyarakat. Kaum Kristiani yakin bahwa dia akan datang ke gereja untuk merayakan Natal. Kaum Muslim sangat berharap salat Ied bersama dengannya. Masyarakat Hindu yakin dia tidak akan keluar seharian dari rumahnya. Pembicaraan berlangsung dari mulut ke mulut, dari kampung ke kampung, dari kepercayaan ke kepercayaan yang lain. Semakin hangat. Semua menunggu. Semua berharap. Dan mereka harus terus waspada.

****

Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Kaum Muslim bergegas. Dari arah utara masjid terlihat beberapa orang lari mengejar waktu. Namun, dia tidak tampak dari kerumunan orang yang sedang berlari tersebut. Kaum Kristiani tersenyum lebar. Mereka semakin yakin dia akan memilih untuk mengikuti Natal dan bernyanyi memimpin di depan. Seorang masyarakat Hindu mengintip dari dalam rumahnya, kemudian menghilang lagi di balik jendela. Masyarakat Hindu dan kaum Kristen kegirangan dalam hati. Pagi menunjukkan jam delapan. Salat Ied berlangsung dengan khidmat. Dia tidak terlihat di masjid mana pun.

Salat Ied selesai. Kaum Muslim merayakan Idul Fitri tanpa kehadiran sosoknya. Muslim yang bersahabat dengannya sangat kecewa. Berangsung-angsur pulang. Beberapa di antaranya mengunjungi makam, sekadar memberikan Al-Fatihah kepada ahli kubur. Beberapa lainnya bersalam-salaman mengunjungi seluruh sanak saudara. Beberapa lainnya lagi kecewa. Pembicaraan kembali berlangsung. Hangat dan semakin hangat. Antara Muslim dengan Muslim. Antara Kristen dengan Kristen. Antara Muslim dengan Kristen. Sementara, masyarakat Hindu semakin khusyuk dengan semedinya. Dan mereka harus terus waspada.

Langit masih mendung. Rintik hujan sudah tidak menetes lagi. Namun, udara semakin dingin. Dan mereka harus terus waspada. Kini kemungkinannya tersisa dua: dia memilih untuk mengikuti Natal atau melakukan nyepi. Semua orang-masih bertanya-tanya.

“Aku bertaruh dia akan berangkat ke gereja sebentar lagi,” ujar seorang kaum Kristiani.

“Saya rasa tidak. Dia sedang nyepi. Coba lihat, sepi sekali kontrakannya,” kata seorang Muslim.

“Sebentar lagi dia akan meminta tumpangan kepadaku.”

“Kita lihat saja nanti.”

Opor dan ketupat sayur diberikan kepada kaum Kristiani, kemudian seorang Muslim itu kembali ke rumahnya. Seorang Hindu sesekali mengintip ke jendela kontrakan. Gelap. Tidak ada cahaya lampu sama sekali. Orang ini semakin yakin bahwa dia sedang melakukan nyepi. Orang Hindu ini tersenyum lebar. Kembali lenyap di balik kesunyian. Dan mereka harus terus waspada.

Matari mulai menunjukkan taringnya. Udara menjadi agak terik. Sayup-sayup takbir masih terdengar. Dingin pupus menjadi panas dan hari ini merupakan hari raya tiga kepercayaan di negeri ini.

“Dia akan menyanyi bersamaku di depan gereja nanti,” kata seorang Kristiani.

“Tidak. Dia akan memilih bernyanyi denganku karena aku lebih cantik darimu,” kata seorang Kristiani lain.

“Suaraku lebih indah dibandingkan suaramu!”

“Mengapa kita tidak bernyanyi bertiga?”

“Tidak. Dia hanya akan bernyanyi denganku.”

“Kamu yakin dia akan datang?”

“Pasti”

Siang berjalan lambat. Terik dan terik. Kaum Muslim sudah selesai dengan urusan halal bi halal. Takbir masih bergema sesekali. Natal berlangsung khidmat. Masyarakat Hindu telah menunaikan seperempat waktu Nyepinya. Namun, dia belum juga menampakkan batang hidungnya. Masih gelap. Sekilas tetangga Hindunya mengintip lagi. Keyakinannya semakin menjadi-jadi. Tersenyum dan kembali bersemedi.

Penasaran. Semua orang penasaran. Beberapa kaum Kristiani sudah kembali dari gereja. Pembicaraan hangat kembali terjadi. Bagaimana dan mengapa merupakan dua pertanyaan yang paling sering diperbincangkan. Pembicaraan berlangsung dari mulut ke mulut, dari kampung ke kampung, dari kepercayaan ke kepercayaan yang lain. Dan mereka harus terus waspada.

Siang berganti sore. Sore berganti malam. Hujan turun, kali ini agak lebat. Jalanan sepi dan hari ini merupakan hari raya tiga kepercayaan di negeri ini. Semua umat Kristiani sudah kembali ke rumahnya.

“Sudah kubilang dia sedang Nyepi,” ujar seorang Muslim.

“Iya. Dia lebih memilih Hindu dibandingkan agama lain,” sahut seorang Kristiani.

“Mengapa bisa seperti itu, ya?”

“Mungkin dia lebih percaya pada Tuhan Hindunya.”

“Lalu dia tidak percaya pada Tuhanku?”

“Ya. Mungkin tidak percaya juga pada Tuhanku.”

“Ya. Mungkin.”

Malam makin larut. Hari sudah tengah malam. Hujan sudah berhenti tiga jam lalu. Seorang tetangga Hindu kembali mengintip ke kontrakan untuk terakhir kalinya. Tersenyum penuh kemenangan. Tidur dengan sangat nyenyak. Malam semakin sepi.

****

Banyak orang yang mengatakan dia gila. Tidak sedikit orang mengatakannya sebagai sumber bala. Sering kali dia: dicemooh, digunjing, dan dihina. Penampilannya tidak pernah berubah. Gamis putih panjang terbentang mengikuti panjang kakinya. Digantung pada lehernya: salib dan tasbih. Sebagai penanda, dia seorang Kristen. Sebagai isyarat bahwa dia seorang Muslim. Dia pernah berkata bahwa ia punya tiga agama: Islam, Kristen, dan Hindu. Namun, dia tidak berlebaran dan dia tidak merayakan Natal.

Pagi yang cerah bagi masyarakat Hindu. Dia tidak menghadiri Natal dan tidak berlebaran. Kontrakannya gelap sepanjang hari. Tidak terdengar suara apa pun.

“Benar firasatku, dia Hindu yang taat,” ujar seorang Hindu.

“Untuk apa dia mengenakan salib?” Sahut seorang Kristiani.

“Tak tahu.”

“Lalu mengapa ia mengenakan bajunya gamis putih dan tasbih di lehernya?” Tanya seorang Muslim.

 “Ya. Dia hanya memakai dua tanda kepercayaan itu,” jawab seorang Hindu.

Perbincangan terus berlangsung. Hangat dan bertambah hangat. Satu hari setelah hari raya tiga kepercayaan di negeri ini. Udara cukup panas. Matari tepat di atas bumi, tetapi yang jadi bahan pembicaraan belum juga muncul.

“Mengapa sesiang ini dia belum juga keluar?” Tanya seorang Muslim.

“Bukankah Nyepi berlangsung hanya satu hari?” kata seorang Kristiani.

“Iya. Nyepi dilakukan satu hari penuh. Seharusnya jam enam tadi sudah selesai,” jawab seorang Hindu.

“Mungkinkah ia masih tidur?”

“Lampu kontrakannya masih mati.”

“Atau dia mati?”

“Mustahil”

“Kita tunggu saja sampai jam satu siang ini. Jika tidak ada perkembangan, kita terpaksa masuk.”

Semua masyarakat berkumpul di depan kontrakan. Pembicaraan berlangsung. Mempertanyakan mengapa dia tidak keluar setelah satu hari penuh Nyepi. Hangat dan semakin hangat. Semua orang kebingungan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam kontrakan. Lampu mati dan tidak ada suara apa pun.

“Dia mati.”

“Tidak mungkin.”

“Ayo segera periksa.”

Akhirnya, masyarakat terpaksa masuk, tepat jam satu siang. Seorang Muslim mendobrak pintu. Nihil! Hasilnya nihil! Dia tidak ada di kontrakan itu. Suasana hening tidak terelakkan. Semua orang terbengong. Bingung. Kaget. Seorang Hindu kecewa karena ternyata dia tidak melakukan nyepi. Semua orang tidak dapat berpikir. Kosong. Hening.

“Ada apa ini ramai sekali?”

Pertanyaan itu memecah keheningan. Semua melihat ke arah yang bertanya.

“Hei, itu dia”

“Hei, dari mana saja kau? Tidakkah kau merayakan salah satu dari ketiga kepercayaanmu?” Tanya seorang Muslim.

“Tidak. Kemarin baru saja aku menjadi seorang Buddha.”

Banyak orang yang mengatakan dia gila. Tidak sedikit orang mengatakannya sebagai sumber bala. Sering kali dia: dicemooh, digunjing, dan dihina. Penampilannya kini sedikit berbeda. Gamis putih panjang terbentang mengikuti panjang kakinya. Digantung pada lehernya: salib dan tasbih. Sebagai penanda, dia seorang Kristen. Sebagai isyarat bahwa dia seorang Muslim. Kepalanya sekarang benar-benar botak, seperti biksu. Dia pernah berkata bahwa ia punya tiga agama: Islam, Kristen, dan Hindu. Namun, semua itu bohong. Dia punya empat sekarang. Salah satunya baru dipercayainya kemarin, ketika ketiga kepercayaan sebelumnya merayakan hari raya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s