Tanya seorang kakek

Wanita seperti apa yang kau mau, nak?
wanita yang baik, jawab seorang cucu
rupanya?
yang putih, tak jarang mandi.
bagaimana dengan tubuhnya?
yang mampu menampung badanku untuk tertindih
rambutnya?
lurus, tanpa kelok.
bagaimana dengan matanya?
biru, seperti langit.
hidungnya?
tak boleh pesek, untuk memperbaiki keturunanku.
bibirnya?
nakal, senakal remaja yang belum cukup umur
bagaimana dengan mulutnya?
mulut yang pandai berbisik.
lalu tangannya hanya dua?
ya, cukup untuk membuatkan aku masak; cukup untuk membuatkan aku kopi hangat.
dadanya harus besar?
tidak, cukup untuk membuat penuh kedua tanganku
bagaimana dengan kakinya?
gesit seperti kuda.
jadi, itu wanita yang kau inginkan?
sahaya, kakek.
begitu tinggi hargamu, sehingga engkau lupakan sesuatu.
hati nak, hati. Hati akan menemani dalam sepi dan senang.
hati akan selalu tabah.
hati akan selalu menang. mengalahkan: bibir yang nakal; mulut yang pandai berbisik; atau tubuh yang bisa menahan tindihanmu.
kek!

PAGI!

PAGI!
Hiruk pikuk pantat masih ngadet
Jalanan macet, kaki menginjak tai
Jemuran ngambek, bulan yang melotot
Lontong sayur Rp. 2000, oh…murahnya.
Ketek basah,
pancasila jadi rukun iman: yang keenam adalah korupsi
innalilahi wa innailaihi rojiun: makanan jatuh
anak laki memegang teteknya, lalu berkata
ini adalah perubahan!
Dan nyanyian kentongan mie ayam berbisik: pada tembako lima ribuan
BBM mau naik!
Dan ketek mengering, jalanan lancar, tai-tai sudah dibuang ke septic-tank,
Alhamdulillah
Anak laki sudah gendut, netes ilernya ke tanah.
Dan perempuan mabok, semabok-maboknya.
Bekasi.6 maret 2012

September

akalku mengelekar diantara jari jemari langit yang kering di bulan: September: mengajariku tentang apa itu arti perjuangan:bintik-bintik abu diusir angin yang bergerak ke arah matahari terbenam di bulan: September: banyak beban yang ada disini: moral dan materi.di bulan September: hujan belum juga menampakkan diri: ketika kancil sang koruptor telah dikurung, dan para gundik-dundiknya sedang meraya: di bulan September: Papa mengumbar lagi aibnya yang justru mengancam keberadaannya di bulan September: dan wajah senja sang Indonesia kembali muram, September: TIMNAS mau mencoba peruntungannya: sedang bintang masih mengintip dari kejauhan, di bulan September: bumi menjadi lebih indah karena dia: di Bulan September: perang kembali dimulai: awan gelap sudah menyelimuti maghrib yang deras di bulan September: aku masih hidup untuk tetap belajar mengenalmu, mengenal Septembermu.

CINTA : Hermawan Aksan

PISAU lipat itu bergetar di genggamanku. Ah, pasti karena denyut jantungku yang kian kencang, seperti pegas di ambang retas. Pisau itu baru kubeli di toko kecil tak jauh dari rumahku.
Hijau pupus warna tangkainya—seperti warna gaun kesukaannya, entah dari bahan apa,dan kecil saja ukurannya.Harganya pun tak seberapa. Dalam keadaan terlipat, palingpaling lima sentimeter panjangnya.Dalam keadaan terbuka,tajam ujungnya berkilat tatkala memantulkan cahaya. Kalau kita berkaca,akan tampak wajah kita yang sebenarnya: mengerikan seperti denawa.
Tiap malam, keletak-keletuk sepatunya yang beradu dengan lapisan beton jalan gang kompleks perumahan memukulmukul keheningan.Memukul-mukul jantung. Mula-mula samar, seperti ketukan ujung jari di tembok, makin lama makin nyaring. Iramanya selalu sama. Seperti nyanyian dua per dua, dengan tempo alegro. Selalu ingin kusibakkan tirai jendela, kuintip remang jalan di muka, dan kunikmati sumber bunyi yang menggetarkan lebih dari komposisi Tchaikovski.Bila perlu,akan kubuka pintu kamarku, lalu keluar dan kutunggu dia di pintu pagar.Akan kusapa dia dengan ucapan selamat malam. Dan aku yakin dia akan menoleh dengan senyumnya yang paling mendebarkan. Udara akan tersaput dengan harum magnolia. Seandainya waktu berkurang lima atau enam tahun, aku bahkan akan menunggunya di ujung jalan.
Aku akan menyapanya dengan segala kesopanan.Aku yakin dia akan menarik bibir merahnya dengan senyuman yang ramah.Kalaupun tidak, dia tentu akan menjawab sapaanku dengan lirik mata yang mendebarkan atau suara yang mendesis seperti bisik angin. Kalaupun tidak juga, aku akan memaksanya berjalan merendenginya di sepanjang gang yang sunyi.Bila perlu merangkulkan tanganku di pundaknya. Tapi sampai ketukan itu larut di udara malam, aku masih terempas dalam kesunyian yang makin mengimpit.
Aku hanya bisa membelai permukaan bilah pisauku, pelan-pelan dari pangkal, dan aku merasainya seakanakan jemariku menyusuri permukaan punggungnya—duhai, aku bahkan belum tahu namanya. Tak lama lagi dia, setelah lelah sejak sore menghibur para lelaki yang kelelahan, akan sampai di rumahnya. Tepatnya, salah satu kamar di rumah mewah hampir di ujung jalan. Dia akan membuka pagar besi rumah itu, lalu akan terdengar derit yang menyilet hening, membuka kunci pintu samping,menutupnya kembali,berjalan menaiki tangga,dan membuka pintu kamar depan di lantai dua.Ketika pintu terbuka, pasti akan meruap wangi yang tak kalah segar dari dalam kamar.
Mungkin dia akan langsung merebahkan tubuh rampingnya di kasur yang empuk dengan seprai merah muda yang harum.Mungkin juga dia akan membuka dulu bajunya, mengambil handuk, lalu membasuh tubuh telanjangnya dengan air yang sejuk. Setelah itu, akan ia kenakan gaun tidur hijau pupus yang lembut.Sama lembutnya dengan hijau tangkai pisauku. Dia pasti sangat menyukai warna hijau.Gaun hijau sutra itu halus dan tipis sehingga akan menerawangkan warna kulitnya yang pualam dan bentuk tubuhnya yang mengingatkanku pada sosok Dewi Supraba.
II

OH, kenapa kamu selalu gelisah, lelaki? Kamu ingin keluar mencegat perempuan malam itu? Keluarlah. Muncratkan semua kepenatan dalam dadamu. Aku tak ingin menjadi penjara bagimu. Kalau kauanggap bahwa apa yang ada dalam pikiranmu akan membuatmu menjadi laki-laki, ayolah kumpulkan keberanianmu, buka pintu hati-hati supaya kamu yakin tak akan membangunkanku.
Dan aku tak akan membuka mata seandainya pun aku bangun dan mengetahuinya. Bukalah pintu, menyelinaplah keluar seperti kucing. Bukankah laki-laki itu memang kucing? Tutup lagi pintu.Kalau perlu, kuncilah dari luar biar aku terkurung di dalam, dalam ketidaktahuan— setidaknya tidak tahu menurut anggapanmu. Senyampang keletak-keletuk suara sepatunya masih menggema di telinga, keluarlah melalui pintu muka.Sapalah dia dengan segala kesopanan.
Aku yakin dia akan menarik bibir merahnya dengan senyuman yang ramah. Kalaupun tidak, dia akan menjawab sapaanmu dengan lirik mata yang mendebarkanmu atau suara yang mendesis seperti bisik angin. Tapi, kalaupun tidak juga, jangan memaksanya berjalan merendenginya di sepanjang gang yang sunyi, apalagi merangkulkan tanganmu di pundaknya. Pasti dia terlalu lelah karena sejak sore menghibur para lelaki yang kelelahan.
Temani saja sampai rumahnya.Tepatnya,salah satu kamar di rumah mewah hampir di ujung jalan. Bukakan pagar besi rumah itu, hati-hati, pasti akan terdengar derit yang menyilet hening. Antar dia membuka kunci pintu samping, menutupnya kembali, berjalan menaiki tangga, dan membuka pintu kamar depan di lantai dua.Kamu pasti akan suka karena ketika pintu terbuka,akan meruap wangi yang tak kalah menyegarkan dari dalam kamar. Kamu pasti akan lebih suka kalau dia akan langsung merebahkan tubuh rampingnya di kasur yang empuk dengan seprai merah muda yang harum, apalagi kalau dia membuka dulu bajunya,mengambil handuk,lalu membasuh tubuh telanjangnya dengan air yang sejuk. Bukankah kamu selalu membayangkan indahnya pemandangan itu? Hei, kamu masih gelisah di sini, lelaki?
III

Keletak-keletuk bunyi sepatuku yang beradu dengan lapisan beton memukul-mukul hening malam. Dan memukul-mukul dadaku.Aku seperti menjadi manusia soliter, sendirian hidup ketika alam semesta tidur.Dan sebentar pagi aku akan menjadi satusatunya manusia yang mati ketika alam semesta hidup disiram matahari.
Oh, tidak, aku yakin, di sebuah kamar, seorang lelaki tengah gelisah. Hampir tiap malam aku merasakan sepasang mata memandang dari kegelapan seperti hendak menelanku. Aku tak pernah melihat mata itu.Tapi aku merasakan sorotnya, seperti sepasang garis sinar sejajar yang memancar dari sudut malam yang pudar. Dasar lelaki, ayolah sibakkan tirai jendelamu, intiplah keremangan jalan ini. Akan lebih baik lagi kalau kau tidak terus-menerus sembunyi, tapi bukalah pintu kamarmu, lalu keluar dan menungguku di pintu pagar. Sapalah aku dengan ucapan selamat malam.
Atau selamat pagi. Aku akan menoleh sambil kuberikan sisa senyumku. Tapi sampai kulewati kamarmu yang temaram,aku hanya menjumpai kesunyian yang makin mengimpit. Aku memang lelah karena sejak sore menghibur para lelaki yang mengaku kelelahan. Namun aku senang melakukannya karena dengan demikian aku menjadi makin tahu bahwa semua lelaki memang tolol. Mereka saling berebut kekayaan sepanjang siang seperti binatang yang berebut makanan, hanya untuk dibuang dalam beberapa kejapan malam harinya, dengan alasan untuk mengusir kelelahan. Ah, ayolah, lelaki, bukankah kamu sama dengan semua lelaki itu?
IV

AH,perempuan,maafkan aku.Kau terlalu indah, karena itu izinkan aku melukis tubuhmu, untuk bisa kunikmati sendiri lukisannya.Kamu terlalu indah untuk juga dimiliki lelaki lain. Telah kusiapkan kuas yang khusus. Ujungnya memang tajam mengilat, dan tak perlu cat jenis apa pun untuk melukis tubuhmu.
Mungkin aku akan memulai dengan ujung telunjuk kiriku sebagai semacam garis kasar, yang akan diikuti dengan ujung pisau lipatku.Ya, ya, akan kumulai dari bawah tengkuk lehermu. Bukankah di sana ada tato kupu-kupu yang membentangkan sayapnya yang biru? “Kenapa kau senang tato kupu-kupu?” begitulah aku akan bertanya lebih dulu. “Karena indah sekaligus rapuh,” pasti demikian jawabmu. Ironi yang indah,bukan? Dari gambar kupu-kupu di tengkukmu, perlahan-lahan akan kususuri dengan ujung jariku, sekaligus ujung pisauku, lekukan di tengah punggungmu yang melandai dan berakhir di lembah di antara tonjolan bokongmu yang membukit.
Lukisan Rembrant atau Monet, repertoar Beethoven atau Mozart, puisi Keats atau apalagi sekadar Goenawan, hanyalah ujung kuku dibanding keindahanmu. Dan aku ingin menikmati sendiri. “Aku ingin memilikimu selama hidupku. Dengan cinta.” Begitulah aku akan berbisik,sebelum kau meregang nyawa di puncak cinta. Mungkin kau akan tertawa, disertai air mata.
V
HEI, lelaki,apa artinya cinta?
VI
Ha-ha-ha! ***

Masih Haruskah Ada Pahlawan Devisa?

Memang benar Indonesia adalah Negeri yang besar. Memang benar jika dibandingkan negera sekitar, kita adalah bangsa yang kaya. Tetapi apakah benar bahwa negara ini sudah sejahtera? Jelas belum jawabannya. Saya masih dapat melihat pengangguran di Indonesiaku ini. Dalam hitungan 1 sampai 7, mungkin Indonesia hanya nilai 3 dalam hal penyediaan lapangan kerja. Perekonomian Indonesia mengalami surplus tenaga kerja. Jumlah penawaran tenaga kerja melampaui permintaannya. Pemerintah memperkirakan angka pengangguran turun dari 7,9 persen di tahun 2009 menjadi 7,6% pada 2010. Tetapi sebenarnya masih banyak orang dengan status bekerja, namun melakukan pekerjaan yang tidak layak. Sebelum krisis ekonomi 1997, angka elastisitas penyerapan tenaga kerja cukup tinggi. Setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi menyerap lebih dari 400 ribu tenaga kerja baru. Sementara pada masa puncak krisis (1998-2000), penyerapan tenaga kerja menurun drastis hingga di bawah 200 ribu penyerapan untuk setiap persen pertumbuhan ekonomi. Meskipun saat ini sudah membaik, penyerapan tenaga kerja belum sebaik sebelum krisis.
Padahal faktanya sangat banyak sektor-sektor sumber daya yang bisa diolah dan dimanfaatkan. Sebenarnya dalam prinsip ekonomi saja, Indonesia sudah memiliki keuntungan lebih dengan jumlah sumber daya manusia yang melimpah. Karena pada dasarnya sumber daya alam akan berjalan searah dengan sumber daya manusia.memang tidak bisa dipungkiri sumber daya modal amatlah berperan penting. Sejarah berbicara ketika pemerintahan Soeharto melakukan utang ke negara lain dengan menempatkan anggarannya di sektor pangan. Pembangunan setelah itu berjalan stabil. Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang, ditempatkan dimanakah utang tersebut. Sudahkah ditempatkan di sektor yang tepat?karena percuma saja apabila utang yang banyak tidak diimbangi investasi-investasi penting, di bidang kesehatan atau pendidikan misalnya.
Bicara keuangan negara, bicara tentang pendapatan perkapita. Apakah Anda tahu berapa pendapatan perkapita negara ini? Sekitar satu juta rupiah, jauh dibandingkan dengan Malaysia atau singapura yang bisa sampai lima juta. Ya, miris memang. karena dibandingkan negara tetangga, Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Yang jadi pokok permasalahannya sekarang adalah kualitas dari sumber daya manusia itu sendiri. Jangan berharap kualitas sumber daya baik, apabila mutu pendidikan yang disediakan baik. Belum lagi tingkat kemerataan fasilitas pendidikan yang belum merata di setiap daerah.
Alhasil, sumber daya manusia yang ada di Indonesia kalah bersaing dengan masyarakat internasional. Masyarakat Indonesia tenggelam pada pasar bebas yang bersemboyan, siapa yang kuat, dialah yang hidup! Akibat dari sempitnya lapangan pekerjaan dan rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia, masyarakat Indonesia memilih untuk bekerja sebagai tenaga kerja di luar negeri. Alih-alih proses registrasi yang mudah dan tidak diperlukannya riwayat pendidikan tinggi yang dibawa, sebagian besar masyarakat Indonesia memilih bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia. Apabila dibandingkan dengan gaji buruh di Indonesia, gaji TKI jauh lebih besar. Pekerjaannya juga tidak perlu menguras otak dan pikiran. Asalkan menuruti saja perkataan majikan, TKI akan bebas dari amarah dan perlakuan tidak menyenangkan.
Hari-hari yang dilalui oleh TKI di negara lain bisa dianggap sebagai pekerjaan ibu rumah tangga, termasuk juga pekerjaan memotong rumput atau menjadi supir pribadi. Tidak membutuhkan pikiran memang, hanya bermodalkan tenaga dan kemauan menuruti semua keinginan sang majikan. Namun hal ini menjadi suatu permasalahan baru memang, persoalan dimana majikan menjadi otoriter, menjadi orang yang paling semena-mena.
Namun saya memandang TKI sebagai kemiskinan. Belakangan ini sering kita lihat dan saksikan dari berbagai media massa tentang betapa malangnya nasib TKI di negeri orang. Penyiksaan dari para majikan menjadikan para TKI cacat secara fisik maupun psikologis. Namun, apa daya yang bisa mereka lakukan? Perekonomian yang menghimpit tak elak membuat mereka merasa jera. Sampai hari ini kita selalu mendengar kabar bahwa TKI identik dengan penyiksaan, kesengsaraan, pemerasan dan lain sebagainya. Tidak adakah kabar baik mengenai TKI? Apakah TKI memang sasaran empuk bagi mereka orang-orang yang brutal ataukah TKI memang sudah mempersiapkan diri untuk diperlakukan seperti itu? Pemerintah sebagai pelaku dan pelaksana pemerintahan, dirasakan sangat kurang sekali perhatiannya atas nasib para TKI ini. Pencermatan keadaan secara hukum dalam permasalahan TKI, semestinya melibatkan elemen-elemen fundamental termasuk administrasi, kontrak, asuransi, dan MoU antar negara. Tanpa adanya dasar hukum yang kuat dan administrasi yang legitimate, pemerintah Indonesia akan sulit mengatasi permasalahan tenaga kerja Indonesia. Sudah semestinya pemerintah Indonesia benar-benar serius, karena dengan demikian masalah-masalah yang selama ini terjadi bisa berkurang banyak. Tapi sayangnya, pemerintah selalu menunggu sampai masalahnya sudah menjadi besar dan buruk. Ironis nya seringkali kasus-kasus itu baru ditangani oleh pemerintah, setelah kasus-kasus tersebut menjadi isu publik. Penanganan kasus TKI yang dilakukan Pemerintah Indonesia sama sekali tidak menyentuh akar persoalan yang sesungguhnya. Sebaliknya, pemerintah dan semua pihak terkait selalu berbangga jika mendengar majikan dihukum dan TKI diberikan berbagai biaya sebagai kompensasi. Tetapi, sumber masalah yang ada di dalam negeri tetap dibiarkan kian menggurita.

TKI memang berperan besar bagi perekonomian Indonesia. Nilai remitansi TKI tahun 2008 mencapai sekitar Rp60 triliun per tahun (15% PDB Indonesia). Tak bisa di pungkiri, julukan pahlawan devisa memang tepat mereka sandang. Maka dari itu, pemerintah perlu menertibkan para agen TKI ilegal untuk menghindari permasalahan sejak proses awal. Kita semua perlu menyadari bahwa permasalahan TKI berawal dari dalam negeri, meskipun akar masalah di luar negeri juga tidak bisa diabaikan. Rendahnya kesempatan kerja dan tingginya pertumbuhan penduduk sebagai akibat mengendurnya berbagai kebijakan kependudukan berdampak pada meningkatnya aliran pekerja dengan pendidikan rendah ke luar negeri.

Tentu, keadaan yang terjadi dilapangan berangkat dari para TKI itu sendiri yang memiliki keinginan tinggi dan impian yang menjanjikan jika mendapat kesempatan untuk bekerja diluar negeri dengan imbalan dolar, ringgit, atau riyal. Karena kuatnya impian itu ingin dicapainya, mereka rela berbohong dan memalsukan data administrasi. Hal ini bisa dihindari dengan adanya pengawasan dan penentuan oleh pihak praktisi, dalam hal ini pemerintah, yang bertanggung jawab.
Selain itu, perlu koordinasi yang lebih baik antara BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) dan Kemenakertrans. Tentunya pemerintah juga harus lebih fokus untuk mengungkapkan solusi dan bukan sekadar mengungkapkan masalah. Semua pihak harus segera duduk bersama. Instrumen kebijakan untuk mengatasi masalah TKI tidak harus terkait langsung dengan urusan TKI itu sendiri. Kini, saatnya dilakukan evaluasi total terhadap penanganan TKI. Evaluasi itu melibatkan semua instansi terkait, termasuk aktivis LSM, peneliti, dan perguruan tinggi. Dari sana harus dihasilkan sebuah rencana besar penanganan TKI yang berbobot disertai rencana aksi nyata sehingga ke depan tidak ada lagi korban. Karena pada dasarnya, Indonesia saat ini membutuhkan komitmen kebijakan kependudukan yang kuat dan secara tidak langsung akan mengatasi masalah TKI pada jangka panjang, sehingga julukan TKI sebagai pahlawan devisa, tak hanya menjadi gincu pemanis saja tetapi akan ada timbal balik, simbiosis mutualisme antara TKI dan Negara.
Oleh karena itu, sepertinya kita masih memerlukan sosok sosok pahlawan devisa. Sembari membangun Indonesia menjadi negara yang luas lapangan pekerjaannya. Pemerintah berpeluang besar untuk mengakhiri permasalahan tenaga kerja dan menghentikan pengiriman TKI ke luar negeri, jika mengubah kebijakan pembangunan politik ekonominya. Dari yang berorientasi penguatan ekonomi perkotaan menjadi penguatan pedesaan. Karena pada hakikatnya orang desalah yang banyak mendapatkan pekerjaan. Dan semoga Tuhan menjadikan Indonesia menjadi negeri yang lebih baik. Baik masyarakatnya maupun pemimpinnya!
Hidup Rakyat Indonesia!