Tanya seorang kakek

Wanita seperti apa yang kau mau, nak?
wanita yang baik, jawab seorang cucu
rupanya?
yang putih, tak jarang mandi.
bagaimana dengan tubuhnya?
yang mampu menampung badanku untuk tertindih
rambutnya?
lurus, tanpa kelok.
bagaimana dengan matanya?
biru, seperti langit.
hidungnya?
tak boleh pesek, untuk memperbaiki keturunanku.
bibirnya?
nakal, senakal remaja yang belum cukup umur
bagaimana dengan mulutnya?
mulut yang pandai berbisik.
lalu tangannya hanya dua?
ya, cukup untuk membuatkan aku masak; cukup untuk membuatkan aku kopi hangat.
dadanya harus besar?
tidak, cukup untuk membuat penuh kedua tanganku
bagaimana dengan kakinya?
gesit seperti kuda.
jadi, itu wanita yang kau inginkan?
sahaya, kakek.
begitu tinggi hargamu, sehingga engkau lupakan sesuatu.
hati nak, hati. Hati akan menemani dalam sepi dan senang.
hati akan selalu tabah.
hati akan selalu menang. mengalahkan: bibir yang nakal; mulut yang pandai berbisik; atau tubuh yang bisa menahan tindihanmu.
kek!

Iklan

CINTA : Hermawan Aksan

PISAU lipat itu bergetar di genggamanku. Ah, pasti karena denyut jantungku yang kian kencang, seperti pegas di ambang retas. Pisau itu baru kubeli di toko kecil tak jauh dari rumahku.
Hijau pupus warna tangkainya—seperti warna gaun kesukaannya, entah dari bahan apa,dan kecil saja ukurannya.Harganya pun tak seberapa. Dalam keadaan terlipat, palingpaling lima sentimeter panjangnya.Dalam keadaan terbuka,tajam ujungnya berkilat tatkala memantulkan cahaya. Kalau kita berkaca,akan tampak wajah kita yang sebenarnya: mengerikan seperti denawa.
Tiap malam, keletak-keletuk sepatunya yang beradu dengan lapisan beton jalan gang kompleks perumahan memukulmukul keheningan.Memukul-mukul jantung. Mula-mula samar, seperti ketukan ujung jari di tembok, makin lama makin nyaring. Iramanya selalu sama. Seperti nyanyian dua per dua, dengan tempo alegro. Selalu ingin kusibakkan tirai jendela, kuintip remang jalan di muka, dan kunikmati sumber bunyi yang menggetarkan lebih dari komposisi Tchaikovski.Bila perlu,akan kubuka pintu kamarku, lalu keluar dan kutunggu dia di pintu pagar.Akan kusapa dia dengan ucapan selamat malam. Dan aku yakin dia akan menoleh dengan senyumnya yang paling mendebarkan. Udara akan tersaput dengan harum magnolia. Seandainya waktu berkurang lima atau enam tahun, aku bahkan akan menunggunya di ujung jalan.
Aku akan menyapanya dengan segala kesopanan.Aku yakin dia akan menarik bibir merahnya dengan senyuman yang ramah.Kalaupun tidak, dia tentu akan menjawab sapaanku dengan lirik mata yang mendebarkan atau suara yang mendesis seperti bisik angin. Kalaupun tidak juga, aku akan memaksanya berjalan merendenginya di sepanjang gang yang sunyi.Bila perlu merangkulkan tanganku di pundaknya. Tapi sampai ketukan itu larut di udara malam, aku masih terempas dalam kesunyian yang makin mengimpit.
Aku hanya bisa membelai permukaan bilah pisauku, pelan-pelan dari pangkal, dan aku merasainya seakanakan jemariku menyusuri permukaan punggungnya—duhai, aku bahkan belum tahu namanya. Tak lama lagi dia, setelah lelah sejak sore menghibur para lelaki yang kelelahan, akan sampai di rumahnya. Tepatnya, salah satu kamar di rumah mewah hampir di ujung jalan. Dia akan membuka pagar besi rumah itu, lalu akan terdengar derit yang menyilet hening, membuka kunci pintu samping,menutupnya kembali,berjalan menaiki tangga,dan membuka pintu kamar depan di lantai dua.Ketika pintu terbuka, pasti akan meruap wangi yang tak kalah segar dari dalam kamar.
Mungkin dia akan langsung merebahkan tubuh rampingnya di kasur yang empuk dengan seprai merah muda yang harum.Mungkin juga dia akan membuka dulu bajunya, mengambil handuk, lalu membasuh tubuh telanjangnya dengan air yang sejuk. Setelah itu, akan ia kenakan gaun tidur hijau pupus yang lembut.Sama lembutnya dengan hijau tangkai pisauku. Dia pasti sangat menyukai warna hijau.Gaun hijau sutra itu halus dan tipis sehingga akan menerawangkan warna kulitnya yang pualam dan bentuk tubuhnya yang mengingatkanku pada sosok Dewi Supraba.
II

OH, kenapa kamu selalu gelisah, lelaki? Kamu ingin keluar mencegat perempuan malam itu? Keluarlah. Muncratkan semua kepenatan dalam dadamu. Aku tak ingin menjadi penjara bagimu. Kalau kauanggap bahwa apa yang ada dalam pikiranmu akan membuatmu menjadi laki-laki, ayolah kumpulkan keberanianmu, buka pintu hati-hati supaya kamu yakin tak akan membangunkanku.
Dan aku tak akan membuka mata seandainya pun aku bangun dan mengetahuinya. Bukalah pintu, menyelinaplah keluar seperti kucing. Bukankah laki-laki itu memang kucing? Tutup lagi pintu.Kalau perlu, kuncilah dari luar biar aku terkurung di dalam, dalam ketidaktahuan— setidaknya tidak tahu menurut anggapanmu. Senyampang keletak-keletuk suara sepatunya masih menggema di telinga, keluarlah melalui pintu muka.Sapalah dia dengan segala kesopanan.
Aku yakin dia akan menarik bibir merahnya dengan senyuman yang ramah. Kalaupun tidak, dia akan menjawab sapaanmu dengan lirik mata yang mendebarkanmu atau suara yang mendesis seperti bisik angin. Tapi, kalaupun tidak juga, jangan memaksanya berjalan merendenginya di sepanjang gang yang sunyi, apalagi merangkulkan tanganmu di pundaknya. Pasti dia terlalu lelah karena sejak sore menghibur para lelaki yang kelelahan.
Temani saja sampai rumahnya.Tepatnya,salah satu kamar di rumah mewah hampir di ujung jalan. Bukakan pagar besi rumah itu, hati-hati, pasti akan terdengar derit yang menyilet hening. Antar dia membuka kunci pintu samping, menutupnya kembali, berjalan menaiki tangga, dan membuka pintu kamar depan di lantai dua.Kamu pasti akan suka karena ketika pintu terbuka,akan meruap wangi yang tak kalah menyegarkan dari dalam kamar. Kamu pasti akan lebih suka kalau dia akan langsung merebahkan tubuh rampingnya di kasur yang empuk dengan seprai merah muda yang harum, apalagi kalau dia membuka dulu bajunya,mengambil handuk,lalu membasuh tubuh telanjangnya dengan air yang sejuk. Bukankah kamu selalu membayangkan indahnya pemandangan itu? Hei, kamu masih gelisah di sini, lelaki?
III

Keletak-keletuk bunyi sepatuku yang beradu dengan lapisan beton memukul-mukul hening malam. Dan memukul-mukul dadaku.Aku seperti menjadi manusia soliter, sendirian hidup ketika alam semesta tidur.Dan sebentar pagi aku akan menjadi satusatunya manusia yang mati ketika alam semesta hidup disiram matahari.
Oh, tidak, aku yakin, di sebuah kamar, seorang lelaki tengah gelisah. Hampir tiap malam aku merasakan sepasang mata memandang dari kegelapan seperti hendak menelanku. Aku tak pernah melihat mata itu.Tapi aku merasakan sorotnya, seperti sepasang garis sinar sejajar yang memancar dari sudut malam yang pudar. Dasar lelaki, ayolah sibakkan tirai jendelamu, intiplah keremangan jalan ini. Akan lebih baik lagi kalau kau tidak terus-menerus sembunyi, tapi bukalah pintu kamarmu, lalu keluar dan menungguku di pintu pagar. Sapalah aku dengan ucapan selamat malam.
Atau selamat pagi. Aku akan menoleh sambil kuberikan sisa senyumku. Tapi sampai kulewati kamarmu yang temaram,aku hanya menjumpai kesunyian yang makin mengimpit. Aku memang lelah karena sejak sore menghibur para lelaki yang mengaku kelelahan. Namun aku senang melakukannya karena dengan demikian aku menjadi makin tahu bahwa semua lelaki memang tolol. Mereka saling berebut kekayaan sepanjang siang seperti binatang yang berebut makanan, hanya untuk dibuang dalam beberapa kejapan malam harinya, dengan alasan untuk mengusir kelelahan. Ah, ayolah, lelaki, bukankah kamu sama dengan semua lelaki itu?
IV

AH,perempuan,maafkan aku.Kau terlalu indah, karena itu izinkan aku melukis tubuhmu, untuk bisa kunikmati sendiri lukisannya.Kamu terlalu indah untuk juga dimiliki lelaki lain. Telah kusiapkan kuas yang khusus. Ujungnya memang tajam mengilat, dan tak perlu cat jenis apa pun untuk melukis tubuhmu.
Mungkin aku akan memulai dengan ujung telunjuk kiriku sebagai semacam garis kasar, yang akan diikuti dengan ujung pisau lipatku.Ya, ya, akan kumulai dari bawah tengkuk lehermu. Bukankah di sana ada tato kupu-kupu yang membentangkan sayapnya yang biru? “Kenapa kau senang tato kupu-kupu?” begitulah aku akan bertanya lebih dulu. “Karena indah sekaligus rapuh,” pasti demikian jawabmu. Ironi yang indah,bukan? Dari gambar kupu-kupu di tengkukmu, perlahan-lahan akan kususuri dengan ujung jariku, sekaligus ujung pisauku, lekukan di tengah punggungmu yang melandai dan berakhir di lembah di antara tonjolan bokongmu yang membukit.
Lukisan Rembrant atau Monet, repertoar Beethoven atau Mozart, puisi Keats atau apalagi sekadar Goenawan, hanyalah ujung kuku dibanding keindahanmu. Dan aku ingin menikmati sendiri. “Aku ingin memilikimu selama hidupku. Dengan cinta.” Begitulah aku akan berbisik,sebelum kau meregang nyawa di puncak cinta. Mungkin kau akan tertawa, disertai air mata.
V
HEI, lelaki,apa artinya cinta?
VI
Ha-ha-ha! ***

Masih Haruskah Ada Pahlawan Devisa?

Memang benar Indonesia adalah Negeri yang besar. Memang benar jika dibandingkan negera sekitar, kita adalah bangsa yang kaya. Tetapi apakah benar bahwa negara ini sudah sejahtera? Jelas belum jawabannya. Saya masih dapat melihat pengangguran di Indonesiaku ini. Dalam hitungan 1 sampai 7, mungkin Indonesia hanya nilai 3 dalam hal penyediaan lapangan kerja. Perekonomian Indonesia mengalami surplus tenaga kerja. Jumlah penawaran tenaga kerja melampaui permintaannya. Pemerintah memperkirakan angka pengangguran turun dari 7,9 persen di tahun 2009 menjadi 7,6% pada 2010. Tetapi sebenarnya masih banyak orang dengan status bekerja, namun melakukan pekerjaan yang tidak layak. Sebelum krisis ekonomi 1997, angka elastisitas penyerapan tenaga kerja cukup tinggi. Setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi menyerap lebih dari 400 ribu tenaga kerja baru. Sementara pada masa puncak krisis (1998-2000), penyerapan tenaga kerja menurun drastis hingga di bawah 200 ribu penyerapan untuk setiap persen pertumbuhan ekonomi. Meskipun saat ini sudah membaik, penyerapan tenaga kerja belum sebaik sebelum krisis.
Padahal faktanya sangat banyak sektor-sektor sumber daya yang bisa diolah dan dimanfaatkan. Sebenarnya dalam prinsip ekonomi saja, Indonesia sudah memiliki keuntungan lebih dengan jumlah sumber daya manusia yang melimpah. Karena pada dasarnya sumber daya alam akan berjalan searah dengan sumber daya manusia.memang tidak bisa dipungkiri sumber daya modal amatlah berperan penting. Sejarah berbicara ketika pemerintahan Soeharto melakukan utang ke negara lain dengan menempatkan anggarannya di sektor pangan. Pembangunan setelah itu berjalan stabil. Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang, ditempatkan dimanakah utang tersebut. Sudahkah ditempatkan di sektor yang tepat?karena percuma saja apabila utang yang banyak tidak diimbangi investasi-investasi penting, di bidang kesehatan atau pendidikan misalnya.
Bicara keuangan negara, bicara tentang pendapatan perkapita. Apakah Anda tahu berapa pendapatan perkapita negara ini? Sekitar satu juta rupiah, jauh dibandingkan dengan Malaysia atau singapura yang bisa sampai lima juta. Ya, miris memang. karena dibandingkan negara tetangga, Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Yang jadi pokok permasalahannya sekarang adalah kualitas dari sumber daya manusia itu sendiri. Jangan berharap kualitas sumber daya baik, apabila mutu pendidikan yang disediakan baik. Belum lagi tingkat kemerataan fasilitas pendidikan yang belum merata di setiap daerah.
Alhasil, sumber daya manusia yang ada di Indonesia kalah bersaing dengan masyarakat internasional. Masyarakat Indonesia tenggelam pada pasar bebas yang bersemboyan, siapa yang kuat, dialah yang hidup! Akibat dari sempitnya lapangan pekerjaan dan rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia, masyarakat Indonesia memilih untuk bekerja sebagai tenaga kerja di luar negeri. Alih-alih proses registrasi yang mudah dan tidak diperlukannya riwayat pendidikan tinggi yang dibawa, sebagian besar masyarakat Indonesia memilih bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia. Apabila dibandingkan dengan gaji buruh di Indonesia, gaji TKI jauh lebih besar. Pekerjaannya juga tidak perlu menguras otak dan pikiran. Asalkan menuruti saja perkataan majikan, TKI akan bebas dari amarah dan perlakuan tidak menyenangkan.
Hari-hari yang dilalui oleh TKI di negara lain bisa dianggap sebagai pekerjaan ibu rumah tangga, termasuk juga pekerjaan memotong rumput atau menjadi supir pribadi. Tidak membutuhkan pikiran memang, hanya bermodalkan tenaga dan kemauan menuruti semua keinginan sang majikan. Namun hal ini menjadi suatu permasalahan baru memang, persoalan dimana majikan menjadi otoriter, menjadi orang yang paling semena-mena.
Namun saya memandang TKI sebagai kemiskinan. Belakangan ini sering kita lihat dan saksikan dari berbagai media massa tentang betapa malangnya nasib TKI di negeri orang. Penyiksaan dari para majikan menjadikan para TKI cacat secara fisik maupun psikologis. Namun, apa daya yang bisa mereka lakukan? Perekonomian yang menghimpit tak elak membuat mereka merasa jera. Sampai hari ini kita selalu mendengar kabar bahwa TKI identik dengan penyiksaan, kesengsaraan, pemerasan dan lain sebagainya. Tidak adakah kabar baik mengenai TKI? Apakah TKI memang sasaran empuk bagi mereka orang-orang yang brutal ataukah TKI memang sudah mempersiapkan diri untuk diperlakukan seperti itu? Pemerintah sebagai pelaku dan pelaksana pemerintahan, dirasakan sangat kurang sekali perhatiannya atas nasib para TKI ini. Pencermatan keadaan secara hukum dalam permasalahan TKI, semestinya melibatkan elemen-elemen fundamental termasuk administrasi, kontrak, asuransi, dan MoU antar negara. Tanpa adanya dasar hukum yang kuat dan administrasi yang legitimate, pemerintah Indonesia akan sulit mengatasi permasalahan tenaga kerja Indonesia. Sudah semestinya pemerintah Indonesia benar-benar serius, karena dengan demikian masalah-masalah yang selama ini terjadi bisa berkurang banyak. Tapi sayangnya, pemerintah selalu menunggu sampai masalahnya sudah menjadi besar dan buruk. Ironis nya seringkali kasus-kasus itu baru ditangani oleh pemerintah, setelah kasus-kasus tersebut menjadi isu publik. Penanganan kasus TKI yang dilakukan Pemerintah Indonesia sama sekali tidak menyentuh akar persoalan yang sesungguhnya. Sebaliknya, pemerintah dan semua pihak terkait selalu berbangga jika mendengar majikan dihukum dan TKI diberikan berbagai biaya sebagai kompensasi. Tetapi, sumber masalah yang ada di dalam negeri tetap dibiarkan kian menggurita.

TKI memang berperan besar bagi perekonomian Indonesia. Nilai remitansi TKI tahun 2008 mencapai sekitar Rp60 triliun per tahun (15% PDB Indonesia). Tak bisa di pungkiri, julukan pahlawan devisa memang tepat mereka sandang. Maka dari itu, pemerintah perlu menertibkan para agen TKI ilegal untuk menghindari permasalahan sejak proses awal. Kita semua perlu menyadari bahwa permasalahan TKI berawal dari dalam negeri, meskipun akar masalah di luar negeri juga tidak bisa diabaikan. Rendahnya kesempatan kerja dan tingginya pertumbuhan penduduk sebagai akibat mengendurnya berbagai kebijakan kependudukan berdampak pada meningkatnya aliran pekerja dengan pendidikan rendah ke luar negeri.

Tentu, keadaan yang terjadi dilapangan berangkat dari para TKI itu sendiri yang memiliki keinginan tinggi dan impian yang menjanjikan jika mendapat kesempatan untuk bekerja diluar negeri dengan imbalan dolar, ringgit, atau riyal. Karena kuatnya impian itu ingin dicapainya, mereka rela berbohong dan memalsukan data administrasi. Hal ini bisa dihindari dengan adanya pengawasan dan penentuan oleh pihak praktisi, dalam hal ini pemerintah, yang bertanggung jawab.
Selain itu, perlu koordinasi yang lebih baik antara BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) dan Kemenakertrans. Tentunya pemerintah juga harus lebih fokus untuk mengungkapkan solusi dan bukan sekadar mengungkapkan masalah. Semua pihak harus segera duduk bersama. Instrumen kebijakan untuk mengatasi masalah TKI tidak harus terkait langsung dengan urusan TKI itu sendiri. Kini, saatnya dilakukan evaluasi total terhadap penanganan TKI. Evaluasi itu melibatkan semua instansi terkait, termasuk aktivis LSM, peneliti, dan perguruan tinggi. Dari sana harus dihasilkan sebuah rencana besar penanganan TKI yang berbobot disertai rencana aksi nyata sehingga ke depan tidak ada lagi korban. Karena pada dasarnya, Indonesia saat ini membutuhkan komitmen kebijakan kependudukan yang kuat dan secara tidak langsung akan mengatasi masalah TKI pada jangka panjang, sehingga julukan TKI sebagai pahlawan devisa, tak hanya menjadi gincu pemanis saja tetapi akan ada timbal balik, simbiosis mutualisme antara TKI dan Negara.
Oleh karena itu, sepertinya kita masih memerlukan sosok sosok pahlawan devisa. Sembari membangun Indonesia menjadi negara yang luas lapangan pekerjaannya. Pemerintah berpeluang besar untuk mengakhiri permasalahan tenaga kerja dan menghentikan pengiriman TKI ke luar negeri, jika mengubah kebijakan pembangunan politik ekonominya. Dari yang berorientasi penguatan ekonomi perkotaan menjadi penguatan pedesaan. Karena pada hakikatnya orang desalah yang banyak mendapatkan pekerjaan. Dan semoga Tuhan menjadikan Indonesia menjadi negeri yang lebih baik. Baik masyarakatnya maupun pemimpinnya!
Hidup Rakyat Indonesia!

Pendidikan: Gambaran Suram Negeriku Ini!

Sudah menjadi rahasia publik tentang ketertinggalan Indonesia di bidang pendidikan. Kalian tahu mengapa Indonesia tidak menjadi negara maju? Paling tidak menjadi negara yang berkembang dalam arti sebenarnya. Itu pun tidak! Padahal pada kenyataannya, Indonesiaku ini sudah memberikan anggaran 20 % dari APBN untuk mengatasi kemiskinan pendidikan yang dialami negara kita. Anggaran itu bertujuan untuk membangun fasilitas sekolah yang baru, mengupgrade guru, dan memberikan dana BOS yang di berikan persiswa setiap bulannya. Apabila ditanyakan hasilnya, tentu kalian pasti tidak dapat menjawab atau hanya bisa menunduk, membayangkan pendidikan di negara-negara lain yang semakin maju, membayangkan bangsa ini semakin tertinggal!

Pendidikan di Indonesiaku saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Itu artinya Indonesiaku adalah negeri yang paling tertinggal! Indonesia memiliki daya saing yang rendah! Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia. masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi merupakan gambaran umum tentang bobroknya pendidikan di Indonesia. Belum lagi rendahnya sarana fisik, rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya prestasi siswa, dan rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan, serta mahalnya biaya pendidikan menjadi masalah epidemik.

Belum lama kita lihat bersama potret dunia pendidikan Indonesia lewat film Laskar Pelangi dengan setting latar yang nyata dengan bangunan sekolah yang sudah tidak layak. miris memang! untuk sarana fisik saja, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya, Hanya bermodalkan papan dan tulis kapur sebagai tumpuan belajarnya. Kita perlu pemerataan!bukan hanya di pusat! Tetapi juga di daerah terpencil, yang jauh dari peradaban pendidikan.
Kualitas guru atau pengajar juga patut disorot. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya. Bahkan sebagian guru di Indonesia dinyatakan tidak layak mengajar. Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Guru setingkat SD/MI yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas masih sangat jarang. Guru SLTP/MTs yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas juga masih dapat dikatakan sedikit . Di tingkat sekolah menengah, guru yang memiliki pendidikan S1 ke atas mungkin baru setengahnya. Di tingkat pendidikan tinggi, dosen rata-rata berpendidikan S2. Selain itu, kesejahteraan guru juga harus diperhatikan! Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Tidak munafik memang pepatah yang satu ini: “ada uang ada barang, ada uang ada ilmu”. Uang menjadi mesin yang menyemangati setiap guru atau pengajar untuk ikhlas dan bersemangat memberikan ilmu yang ia miliki.

Beberapa kendala dan masalah tersebut berimbas pada prestasi golongan pelajar di Indonesia. Dibandingkan dengan Bangsa lain, Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai sedikit materi bacaan yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda. Lalu bagaimana dengan ukuran keberhasilan Pendidikan Indonesia? Petannyaan ini tertuju pada Ujian Nasional. Memang Indonesia belum mempunyai standar yang jelas menyoal tolak ukur keberhasilan pendidikan. Ujian Nasional menjadi diperlukan sebagai pengukur keberhasilan pembelajaran siswa dan pengajaran dari guru selama bersekolah. Namun apabila hasil evaluasi ingin baik, sebaiknya mulai dari proses pembelajaran sudah harus ada peningkatan juga, seperti peningkatan kualitas guru, peningkatan sarana dan prasarana sekolah dan peningkatan kurikulum. Bila proses pembelajaran di setiap sekolah masih berbeda-beda, bagaimana mungkin sistem evaluasinya dapat disamaratakan? jelas hasilnya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan.

Belum lagi masalah biaya! Pendidikan bermutu itu mahal harganya! Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Indonesia masih hanya menggalakkan wajib belajar 9 tahun. Bagaimana dengan negara-negara lain? Negara lain sudah menggalakkan wajib belajar 12 tahun! Bahkan sudah 5 sampai 10 tahun belakangan.

“ Orang miskin tidak boleh sekolah”. kalimat itu terdengar miris di telinga Indonesiaku, di telinga Para Koruptor! Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci Penyimpangan dana BOS, praktek jual beli bangku sekolah, biaya pendidikan mahal, dan juga sertifikasi hanya agar bisa mendapatkan tunjangan profesi. Dunia pendidikan masih perlu pembenahan. Karena ternyata, alokasi APBN untuk pendidikan yang cukup besar hingga 20% dengan total Rp243 triliun belum mampu mengatasi pembiayaan perbaikan mutu standar satuan pendidikan.

Sungguh, Demi Tuhan, Bangsaku Tidak Bodoh! Bangsaku adalah bangsa yang pintar, anak Bangsa Indonesiaku ini adalah anak-anak emas! yang punya cita-cita tinggi! yang ingin menjadikan Indonesiaku ini Surga untuk Para putra Bangsa!

love

Love is patient, love is kind.
Love is not jealous, it does not brag, and it is not proud.
Love is not rude, is not selfish, and does not become angry easily.
Love does not remember wrongs done against it.
Love is not happy with evil, but is happy with truth.
Love bears all things, believes all things,
hopes all things, endures all things.
Love never fails
If there are prophecies, they will be brought to nothing; if tongues, they will cease; if knowledge, it will be brought to nothing.

memahami pemimpin untuk memimpin

Akhir-akhir ini banyak orang membicarakan masalah krisis kepemimpinan. Banyak orang mengatakan bahwa pada zaman sekarang sangat sulit mencari kader-kader pemimpin pada berbagai tingkatan. Orang pada zaman sekarang cenderung mementingkan diri sendiri dan tidak atau kurang perduli pada kepentingan orang lain, dan kepentingan lingkungannya. Krisis kepemimpinan ini disebabkan karena makin langkanya keperdulian pada kepentingan orang banyak, dan kepentingan lingkungannya. Sekurang-kurangnya terlihat ada tiga masalah mendasar yang menandai kekurangan ini. Pertama adanya krisis komitmen. Kebanyakan orang tidak merasa mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memikirkan dan mencari pemecahan masalah kemaslahatan bersama, masalah harmoni dalam kehidupan dan masalah kemajuan dalam kebersamaan Kedua, adanya krisis kredibilitas. Sangat sulit mencari pemimpin atau kader pemimpin yang mampu menegakkan kredibilitas tanggung jawab. Kredibilitas itu dapat diukur misalnya dengan kemampuan untuk menegakkan etika memikul amanah, setia pada kesepakatan dan janji, bersikap teguh dalam pendirian, jujur dalam memikul tugas dan tanggung jawab yang dibebankan padanya, kuat iman dalam menolak godaan dan peluang untuk menyimpang. Ketiga, masalah kebangsaan dan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Saat ini tantangannya semakin kompleks dan rumit. Kepemimpinan sekarang tidak cukup lagi hanya mengandalkan pada bakat atau keturunan. Pemimpin zaman sekarang harus belajar, harus membaca, harus mempunyai pengetahuan mutakhir dan pemahamannya mengenai berbagai soal yang menyangkut kepentingan orang-orang yang dipimpin. Juga pemimpin itu harus memiliki kredibilitas dan integritas, dapat bertahan, serta melanjutkan misi kepemimpinannya. Kalau tidak, pemimpin itu hanya akan menjadi suatu karikatur yang akan menjadi cermin atau bahan tertawaan dalam kurun sejarah di kemudian hari.

Secara umum, kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas tugas dari orang-orang dalam kelompok. Kepemimpinan berarti melibatkan orang lain, yaitu bawahan atau karyawan yang akan dipimpin. Kepemimpinan juga melibatkan pembagian kekuasaan (Power). Pemimpin mempunyai power yang lebih besar dibandingkan dengan yang dipimpin. Power tersebut datang dari beberapa sumber, diantaranya adalah : Reward power, Coercive power, Legitimate power, Referent power, dan Expert power.
Manajer secara umum, mempunyai keahlian yang lebih tinggi, dibandingkan bawahannya, manajer dapat juga mempunyai kekuasaan referensi yang mendorong bawahan ingin meniru perilaku menejer, meskipun kekuasaan yang terakhir ini barangkali tidak sebesar kekuasaan sebelumnya.
Pemimpin tidak sama dengan manajer. Pemimpin biasanya dikaitkan dengan orang yang mempunyai semangat yang tinggi, kharisma yang tinggi, dan kemampuan memotifasi orang lain yang sangat tinggi. Sementara Manajer biasanya dikaitkan dengan orang yang mampu merencanakan, mengelola, dan mengendalikan organisasi dengan baik, tetapi tidak mempunyai kemampuan memotifasi orang lain dengan baik. Presiden Soekarno barangkali contoh seorang pemimpin yang efektif, karena hanya dengan pidatonya, beliau mampu menggerakkan bangsa Indonesia melawan penjajah. Sementara para manajer biasanya memotifasi karyawannya dengan intensif gaji.
Kepemimpinan adalah kemampuan meyakinkan orang lain supaya bekerja sama di bawah pimpinannya sebagai suatu tim untuk mencapai atau melakukan suatu tujuan. Seorang pemimpin itu adalah berfungsi untuk memastikan seluruh tugas dan kewajiban dilaksanakan di dalam suatu organisasi. Seseorang yang secara resmi diangkat menjadi kepala suatu group I kelompok bisa saja ia berfungsi atau mungkin tidak berfungsi sebagai pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang unik dan tidak di wariskan secara otomatis tetapi seorang pemimpin haruslah memiliki karekteristik tertentu yang timbul pada situasi -situasi yang berbeda
Untuk dapat mengusahakan orang lain bekerjasama dengannya, maka pemimpin dapat menggunakan kewibawaan tertentu atau diberikan kewenangan/kekuasaan formal tertentu. Kekuasaan merupakan suatu bagian yang merasuk ke seluruh sendi kehidupan organisasi. Bahkan dikatakan oleh Mc Clelland kekuasaan merupakan salah satu kebutuhan manusia. Manager dan non manager menggunakan kekuasaan dalam aktivitas sehari-harinya. Mereka memanipulasi kekuasaan untuk mencapai tujuan dan memperkuat kedudukan mereka. Dalam teori otoritas formil, kewenangan adalah suatu kekuasaan atau hak untuk bertindak, untuk memerintah atau menurut tindakan oleh orang lain.Siapa orang yang bisa diangkat atau dipilih untuk menjadi pemimpin? kita, ya kita adalah pemimpin. pemimpin diri sendiri untuk menuju jalan yang terbaik.