Asrul Sani dan kerja keras “pantang menyerah”

Asrul sani lahir di Roa, Sumatra Barat pada 10 juni 1926 dan meninggal dunia pada 11januari 2004 di Jakarta. Ia menutup usia pada saat berumur 77 tahun. Beberapa karyanya seperti; “tiga menguak takdir”, “surat dari ibu”, “mantra”(1975),dan ”dari suatu masa dari suatu tempat”(1972) merupakan karya yang mengangkat nama Asrul Sani di dunia sastra Indonesia.
Berpijak pada kiprah dan karya- karya Asrul Sani, H.B. Jassin menganggap Asrul sani bersama-sama dengan Chairul Anwar, sebagai pelopor angkatan’45. Karya- karya Asrul Sani juga sebagai perintis lahirnya puisi- puisi modern Indonesia. Karya –karyanya lahir dari buah pemikirannya yang terinspirasi oleh kehidupan masyarakat pada waktu itu. Puisi-puisinya mengisahkan narasi yang mengandung nilai kehidupan, seperti nilai moral, nilai religius, dan nilai estetika.
Dalam sajak “Surat dari Ibu” misalnya. Asrul sepertinya ingin menunjukkan suatu pesan dari seorang ibu ( aku lirik) untuk anaknya. Pesan tersebut berisi dengan nasehat ibu kepada sang anak agar “hidup bebas”: ‘pergi ke dunia luas anakku sayang, pergi hidup bebas’. Bebas berarti belajar dalam hal apapun: ‘selama angin masih angin guritan, dan matahari pagi masih menyinari daun-daunan, dalam rimba dan padang hijau’. Pesan untuk bekerja keras dan belajar untuk meraih kesuksesan selama masih diberikan kesempatan hidup dari “sang pencipta”: ‘selama hari belum petang, dan warna senja belum kemerah- merahan, menutup pintu waktu lampau’. Keinginan seorang ibu untuk melihat anaknya menjadi anak yang berhasil . Apabila anaknya sudah berhasil meraih impiannya, sang ibu akan sangat bangga:’ jika tiang-tiang akan kering sendiri dan nahkoda sudah tahu pedoman, boleh engkau datang padaku, kita akan bercerita,”tentang cinta dan hidupmu dipagi hari”. pesan tersebut menggambarkan harapan besar dari sang ibu, agar anaknya berhasil meraih impiannya dengan cara selalu belajar dan bekerja keras. Sepertinya, lewat sajak “Pesan dari Ibu” Asrul Sani ingin menanamkan paham dan sikap bekerja keras dalam menjalani rintangan kehidupan.

Sesungguhnya, pada kenyataannya, hasrat berkarya Asrul Sani dan penyair- penyair lainnya (jika kita mencoba membandingkan dengan penyair angkatan ’45 lainnya) merupakan suatu curahan hati yang lahir melalui pemikiran yang komprehensif tentang kehidupan. Di dalam suatu karya, terdapat suatu seni yang mengindikasikan suatu pesan logis. Sebuah puisi, harus mengungkapkan kejujuran yang berdasarkan kenyataan suatu peristiwa yang akhirnya menjadi suatu visi dalam konteks kehidupan. Asrul Sani mencari,menemukan dan memilih kata-kata dengan kritis agar menimbulkan diksi yang tepat di setiap bait puisinya. pemikirannya merupakan ‘pemberontakkan’ atas sikap manusia yang tidak sesuai dengan nilai kehidupan.
Akan tetapi, hampir semua karya Asrul Sani merupakan jawaban dari ‘ketidakpuasannya’ atas sikap manusia yang tidak belajar dari kesalahan yang sudah pernah dilakukan. Ketidakpuasannya itulah yang mendukung Asrul dalam memilih diksi yang tepat pada setiap bait-bait puisinya, sehingga pesannya dapat tercurahkan pada puisi tersebut.
Dalam suatu kesempatan, Asrul Sani pernah mengatakan bahwa sebuah karya puisi merupakan kerja keras dan belajar. Artinya, dalam membuat suatu karya harus dilakukan dengan bekerja keras, jika belum berhasil, ia selalu belajar dari kesalahan dan berusaha tidak mengulangi kesalahan tersebut. Oleh karena itu, semakin besar usaha yang dilakukan untuk pemikirannya, semakin jelas dan tegas apa yang bisa disampaikan melalui puisinya.
Kerja keras yang dimaksud Asrul Sani lebih diwujudkan dalam bentuk sejumlah lambang, citra, diksi, majas atau simbol yang selaras satu sama lain dan mendukung dalam mewujudkan kesatuan yang utuh. Kesatuan yang utuh dari kerja keras tersebut, memberikan ruang sendiri tanpa ada unsur-unsur lain untuk melengkapi kerja keras tersebut.
Uraian di atas kiranya menjelaskan bahwa Asrul Sani merupakan salah seorang penyair Indonesia yang banyak menyumbangkan paham realistis tentang kehidupan. Asrul Sani terkenal bukan hanya sebagai penyair, tetapi juga seorang seniman, aktor dan pembaca berita. Akan tetapi, puisi-puisinya–lah yang sebenarnya mampu mengangkat namanya di dunia sastra Indonesia.

Iklan

Di Balik Bukit Cibalak: Mengenal Arti Kata Kehidupan

Sungguh novel ini sangat menarik untuk dibaca, isi dan karakter penulisan kalimatnya sangat menonjol. Di dalam novel ini banyak memberikan kita pembelajaran, mulai dari pembelajaran yang berhubungan dengan nilai sosial maupaun nilai-nilai moral yang dapat kita jadikan landasan untuk berfikir secara rasional dan faktual.
Dalam novel ini, Ahmad Tohari memasukkan berbagai aspek kehidupan desa. seolah meniatkan novel pertamanya ini sebagai satu dari serentetan ensiklopedia pedesaan. tanpa harus merusak cerita, tanpa harus tampak seperti tempelan. Catatlah: alam pedesaan, perubahan desa karena kemajuan teknologi, “terculiknya” sejumlah warga untuk dijadikan pembantu di kota, pemilihan kepala desa yang berjiwa politik uang beserta ekorannya, kentalnya mistik dalam kehidupan pedesaan, kehidupan sosial dan profesional pedesaan, kawin belia, ketidakberjakan desa sehingga semua orang saling kenal dan semua masalah diketahui, ungkapan-ungkapan khas Jawa (cucuk emas, wani ngalah luhur wekasane, dsb.). Di kaki Bukit Cibalak terdapat sebuah desa yang diberi nama Desa Tanggir. Desa ini berbatasan lansung dengan perkampungan Bukit Cibalak. Desa ini telah banyak mengalami kemajuan, yang awalnya hanya terdengar bunyi burung-burung yang berkicau, hentakan kaki kerbau yang sedang membajak, kini telah terganti dengan suara motor dan mobil, radio dan kaset disel penggerak gilingan padi. Penduduk Desa Tengir adalah keturunan dari dua kelompok yang berlainan, yaitu kaum kawala dan kaum keturunan kerabat ningrat.
Dipagi itu ada banyak orang sedang berbondong-bondung menuju Balai Desa, karena hari ini merupakan hari pemilihan lurah yang baru. Mereka berkelompok-kelompok membicarakan siapa yang layak dan pantas menjadi kepala desa di desa ini. Tentunya setiap orang menjagokan idolanya yang jadi kepala desa, begitu juga dengan Pambudi yang menjagokan Pak Budi sebagai lurah yang layak memimpin kampungnya. Menurut dia, Pak Budi ini orang yang jujur dan mempunyai nama yang baik di Desa Tanggir ini. Selain itu, beliau adalah sosok orang yang dermawan dan pendidikanya sangat baik untuk ukuran Desa Tanggir waktu itu.Diantara calon yang ada, hanya ada dua calon yang mempunyai pengaruh besar, yaitu Pak Budi dan Pak Dirga yang menjadi kandidat calon terkuat. Siang itu penduduk Desa Tanggir menentukan siapa yang pantas menjadi pemimpin di kampong mereka, teryata kebaikan dan kejujuran Pak Budi tidak memberikan nasip yang baik. Ia kalah, Pak Dirga-lah yang terpilih. Pambudi merasa kecewa karena calon yang dijagokanya itu kalah.
Pambudi adalah pemuda yang berusia 24 tahun. Ia merupakan sosok pemuda yang berani dan mempunyai jiwa sosial yang tinggi, sehingga ia berniat menjadikan lumbung koperasi menjadi sebuah koperasi yang mampu mengayomi dan dapat dijadikian faedah bagi masyarakat. Keinginin tulusnya ini mendapat jalan yang buntu, karena merasa menemukan jalan yang buntu, Pambudi pun mulai berpikir untuk mencari pekerjaan yang lain.
Suatu hari ada seorang perempuan tua yang bernama Mbok Ralem yang ingin meminjam padi di lubung koperasi. Ia mengajukan permohonan kepada Pak Dirga supaya ia mendapat pinjaman untuk berobat. Akan tetapi, permohonan yang dilakukan tidak mendapat respon positif dari Pak Dirga. Karena Pambudi merasa perihatin dengan kondisi penyakit yang dialami Mbok Ralem, ia bersusah payah supaya Mbok Ralem mendapat pinjaman. Pak Dirga tetap mengegokan pendapatnya, bahwa Mbok Ralem tidak berhak mendapat pinjaman. Pambudi pun keluar dari pekerjaanya sebagai pengurus administrasi lumbung koperasi. Kini ia menjadi pengangguran.
Karena tekatnya ingin membantu, Pambudi pun datang ke rumah Mbok Ralem untuk membicarakan masalah penyembuhan penyakit yang diderita Mbok Ralem., Ia pun menyuruh Mbok Ralem untuk meminta surat keterangan tidak mampu ke Balai Desa. Awalnya Mbok Ralem tidak mau meminta surat tersebut ke Balai Desa karena takut. Pambudi berkata “kalau kau ingin sembuh, janganlah ada rasa takut dihatimu, sekalipun terhadap Pak Dirga”. Besok harinya mereka berangkat ke Yogya mengunakan mobil angkutan. Setelah kurang lebih 4 jam mereka sampai disana. Akhinya Mbok Ralem mendapat pengobatan di rumah sakit,setelah pemeriksaan dilakukan ternyata ia terkena kanker. Ia harus melakukan operasi. Pambudi mulai kebinggungan mendapatkan uang untuk proses operasi Mbok Ralem, uang yang ada di tabunganya pasti tidak cukup untuk opeasi tersebut.
Dengan pemikiran yang realistis, Pambudi membawa Mbok Ralem ke sebuah toko Potret. Kemudian ia membawa Mbok Ralem ke sebuah penerbit Koran yang bernama Kalawarta. Ia pun menerangkan maksudnya dengan jelas.Pertama-tama ia meminta pemasangan iklan yang disertai foto Mbok Ralem dan kemudian membuka dompet sumbangan untuk menghimpun dana bagi perawatan Mbok Ralem. Akhinya uang dari penghimpun dana terkumpul sebesar Rp. 2.162.375,00. Operasi Mbok Ralem dilakukan, setelah beberapa hari akhirnya Mbok Ralem sembuh dan kemudian mereka pulang ke kampung halamanya, Desa Tanggir. Kini redaksi Koran Kalawarta sudah berkembang dan mempunyai banyak peminat pembaca. Karena inilah Pak BArkah, Pimpinan redaksi kalawarta tidak melupakan Pambudi yang telah member pengaruh yang besar terhadap redaksi ini.
Setelah pulang kampung, akhirnya ia bertemu lagi dengan Sanis, seorang gadis yang cantik, masih SMP kelas II yang berusia 13 tahun. Tapi tingkalakuNya sungguh dewasa, hal inilah yang membuat Pambudi sangat tertarik melihat Sanis dan kini ia begitu menyanyangi Sanis.
Keiklasan, kebaikan dan pengorbanan yang dilakukan Pambudi mengalami pertentangan, karena kepala desa Tanggir merasa dilecehkan jabatanya sebagai kepala desa. Pak Dirga, kepala desa Tanggir ini akhirnya mengunakan berbagai cara untuk mengucilkan Pambudi, mulai dari bantuan dukun, tingka laku Pak Dirga terhadap keluarganya, serta perlakuan yang tidak wajar yang dilakukan Pak Dirga. Akan tetapi tindakan sosialnya ini mendapat respon positif dari Bambang Sumbodo, seorang anak camat yang tesentu akan pemikiran Pambudi. Pambudi hanya ingin menyelamatkan desanya dari kecurangan kepala desa yang baru. Tindakan yang dilakukan Pak Dirga sungguh sangat merugikan masyarakat. Karenaitu, ia berusaha membongkar kebusukan Kepala Desanya ini.Ia difitnah oleh Pak Dirga dan Poyo,,kini ia mala ia tersingkir ke Yogya.
‘Hari yang baru untuk jiwa yang baru’. Itulah yang dialami Pambudi sekarang, kini ia terpisah sementara dengan kedua orang tuanya dan Sanis yang sangat disayanginya. Kini ia tinggal dengan Topo teman dekatnya waktu SMA, yang kini masih menempuh pendidikan dan sebentar lagi menjadi seorang doktorandus. Setelah membutuhkan pemikiran yang panjang, Pambudi bermaksud melanjutkan pendidikanya. Sebelelum ajaran baru dimulai ia pun mulai bekerja mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya. Kini iabekerja sebagai kuli bangunan dan kemudian ia berhenti karena pekerjaan ini banyak menghabiskan tenaganya. Akan tetapi ini merupakan awal yang baik, setelah tak bekerja lagi sebagai kuli bangunan, kini ia bekerja sebagai penjaga toko arloji. Disinilah awal pertemuannya dengan Mulyani,anak majikanya, yang kemudian terjalinlah sebuah persahabatan antara mereka berdua.
Sekarang ia telah menjadi mahasiswa. Pemikirannya kini telah semankin luas. “Kuliah dan Bekerja” iinilah kegiatan sehari- harinya sekarang. Sebagian besar biaya kuliahnya ditanggung ia sendiri dan lainya dapat kiriman orang tuanya dari hasil penjualan telur ayam peliharaan ia waktu dikampung. Setelah beberapa lama bekerja di sebuah toko arloji, kini ia mendapat ajakan dari Pak Barkah, kepala redaksi Kalawarta untuk mengantikan Pendi Toba yang sedang pulang kampung. Awalnya ia meragukan kemampuanya di bidang jurnalistik ini, tapi karena dorongan Pak Barkah akhinya ia bekerja di redaksi Kalawarta ini.
“Pengetahuan baru memberikan pengalaman yang baru” Melalui persurat kabaran ini, Pambudi mulai melakukan strategi untuk melakukan perlawanan terhadap Pak Dirga, Kepala Desa Tanggir ini. Berawal dari inilah niat baik Pambudi terhadap desanya mulai terwujud. Keinginannya untuk member pelajaran kepada Pak Dirga semankin mengapi-api setelah ia tau bahwa Sanis yang ia cintai selama inii telah di nikahi kepala desa yang berhati busuk. Banyak orang menyukai pemikiran yang dilakukan Pambudi dalam menyampaikan gagasanya di koran Kalawarta. Akan tetapi tidak semua orang menyukai pemikiranya ini, termasuk Camat Kalijambe. Menurut Pak Camat Kalijambe ini, gagasan yang disampaikan Pambudi sangat mencela daerah jabatanya. Tetapi Bambang Sembodo sangat meyetujui pendapat yang disampaikan Pambudi di redaksi. Akhirnya, dengan seling beradu pemikiran dengan anaknya, Pak camat mulai sadar bahwa yang dilakukan Pambudi itu emang benar-benar adanya.
Keesokan hari Pak Camat menghadap Bupati. Teryata atasanya sudah siap menerima laporan dari Camat Kalijambe itu. Bupati menegaskan supaya lurah Tanggir itu diberhentikan. Setelah lama berpikir, Pak Camat akhinya mendengarkan pendapat anaknya, ia pun menempuh cara yang di usulkan anaknya. Akhirya Pak Dirga Tertangkap basa sedang berjudi, apalagi dengan berbisik-bisik diberitahukan, bahwa beberapa wanita cantik akan melayani meja judi itu.Terbongkarlah sudah kebusukan dan kebejatan lurah Tanggir itu. Setelah ditangkap dan dibawa ke kantor polisi dan kemudian dijemur dilapangan, besslit Pak Dirga dicabut dan kemudian dipecat menjadi lurah.
Sekarang Pambudi telah menamatkan ujian sarjana mudanya, ia merasa senang dan bersyukur. Tiba-tiba Mulyani memberikan ciuman kepadanya, alangkah kagetnya Pambudi ketika itu. Akan tetapi, keberhasilan dan kesenangan ini terpupus akan kematian ayahnya. Kini kepala desa yang lama telah digantikan seorang yang masih mudah, Hadi namanya. Kelihatanya Ia sosok pemimpin yang baik, yang akan memberikan kemajuan yang berarti untuk Desa Tanggir kedepanya.
Sanis kini menjadi janda,walau janda tetapi ia tetap cantik. Kini sosok Sanis yang pernah dicintainya telah tergantikan Mulyani, anak pemilik toko tempat ia bekerja, meski harus mengalami pergulatan batin yang meletihkan.

Demikianlah, betapa kehidupan desa begitu kuat kehadirannya dalam karya pertama Ahmad Tohari ini, namun begitu kuat pula kemarahannya kepada desanya itu, desa pada jaman orde baru itu. Sehingga sedikit bombastis memang jika dikatakan bahwa Di Kaki Bukit Cibalak ini adalah “Karya yang mencintai desa, namun mengawini kota”.<

syair seorang pujangga

hamba  miskin hina dan papa

suda bodo lagi penglupa

mengharap mendapat upah

jadi dikarang segala rupa

 

hamba miskin bertamba peri

tiada bekerjalah sehari-hari

mengarang sajak

harap sewanya atau senyumnya saja

sewanya senyuman saja

itulah ditentukannya

dipikir tiadalah jadi ruginya

karena sajak sangat ramainya

 

demikianlah hamba katakan

senyuman itu

hamba harapkan

pada pembaca

hamba minta dikasihkan senyuman,

janganlah diperdayakan

senyuman  jangan dibikin diperdaya

buat jajan dan uang rokok:

buat saya saja

 

sebab menulislah sampai paya

jika tiada dibayar minta

dikutuki dalam dunia

karena saya dari kecil tiada bekerja:

melainkan menulis mengarang saja

senyuman itu uang belanja

untuk belanja kebahagian dan

kepuasan seorang pujangga