Malin Kundang dan Ibunya

Alkisah di bumi Padang hidup sebuah keluarga kaya. Keluarga itu terdiri dari seorang ayah, ibu, dan Malin Kundang. Kehidupan keluarga itu sangat bahagia. Malin Kundang merupakan seorang pemuda yang baik budi pekertinya. Sang ayah merupakan seorang saudagar kaya yang memiliki tanah yang luas. Sang ibu hidup sebagai istri saudagar yang suka dengan kemewahan. hampir setiap hari sang ibu berbelanja baju dan perhiasan. Sebagai seorang anak, Malin Kundang tidak menyukai kebiasaan ibunya yang boros. setiap kali ia mengingatkan ibunya agar tidak boros Malin Kundang selalu dimarahi oleh ayahnya. “Malin…janganlah kau mengusik kesenangan ibumu! nanti kau bisa durhaka!” kata sang ayah setiap kali Malin Kundang menegur ibunya.
Keluarga itu sangat mapan. Semua kebutuhan keluarga itu dapat terpenuhi dengan mudah dengan kekayaan yang dimiliki keluarga itu. sampai suatu ketika sang ayah sakit keras. Ia harus berobat kesana-sini untuk menyembuhkan penyakitnya. Lama-kelamaan harta kekayaan mereka habis untuk biaya pengobatan sang ayah. Tanah mereka dijual. Perhiasan dan harta benda juga ikut dijual. Perternakan juga ikut dijual. Keluarga saudagar itu mendadak miskin. Kehidupan mereka pun menjadi sangat sulit. Jangankan untuk membeli obat, untuk makan saja mereka kesulitan. Semenjak itu sering terjadi pertengkaran dalam keluarga itu. Ibunya berkata kepada sang ayah, “kenapa kau harus sakit? Tegakah kau melihat istrimu sengsara?” teriaknya memekik ruangan kamar. Ayah hanya bisa diam dan menangis meringis. “Jangan ibu menyalahkan ayah…ayah tidak salah bu!” bela Malin sambil menghapus airmata di pipinya.
Malin Kundang memutuskan untuk merantau ke kota untuk mencari uang untuk membiayai pengobatan sang ayah sementara ibu merawat ayah. Setiap bulan Malin Kundang selalu mengirimkan uang. Ternyata, selama malin merantau sang ibu tidak mengurus ayah. Bahkan uang yang dikirimi malin dipakai berfoya-foya oleh ibunya. Ibu Malin sering keluar rumah untuk bersenang-senang. Sementara kondisi sang ayah semakin hari semakin melemah. Tubuhnya kurus karena jarang makan. Ia sering menangis menahan penyakitnya. Beberapa tetangga sering menjunguknya untuk memberi makan dan memberi obat. Karena tidak tahan dengan kelakuan ibu Malin, salah satu tetangganya menyurati Malin Kundang. Di dalam surat itu disebutkan bahwa keadaan ayah Malin Kundang semakin memburuk. Ibu sering pergi meninggalkan rumah dan uang yang biasa dikirimkan oleh Malin digunakan ibu untuk berfoya-foya. Dengan keadaan panik dan kesal Malin Kundang memutuskan untuk pulang menengok ayahnya.
Kondisi ayah semakin kritis. Makanan semakin sulit masuk ke dalam perutnya, sementara Malin Kundang masih dalam perjalanan menuju kampungnya. Ibu Malin Kundang semakin jarang pulang ke rumah. Dalam keaadan kritis, ayah Malin Kundang melihat Ibu Malin Kundang pergi bersama seorang laki-laki dewasa.
“mau pergi kemana kamu? siapa laki-laki itu? Malin… Malin dimana kamu?…ayahmu sakit nak….ibumu pergi meninggalkan ayahmu…pulang nak…pulang!” tangisan mengakhiri pertemuan singkat itu. Sang ibu pergi meninggalkan ayah Malin Kundang. sudah tiga hari ibu belum pulang. Malin Kundang akhirnya tiba di kampungnya setelah melakukan perjalanan jauh dari ibukota selama empat hari. Didapatinya sang ayah yang berbaring lemah sendirian di kamarnya.
“ayah.bagaimana kondisi kesehatan ayah?” sambil menangis dipenganginya tangan ayahnya. Ayah tidak menjawab. Dia hanya diam. “ayah! kenapa ayah diam saja? Ibu! dimana ibu yah? seharusnya dia merawatmu!” Malin Kundang bingung. Ayahnya hanya diam saja. Tanpa satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Dipeganginya lagi tangannya yang mulai mendingin. Nampak mata ayahnya kosong tak berpandang. Dipeluknya erat-erat sang ayah. Ayah meninggal. Malin Kundang menangis sejadi-jadinya.
Seketika itu juga ibu datang bersama laki-laki. Malin Kundang kesal. Ia kecewa dengan sikap ibunya. Ketika Malin Kundang mau marah kepada ibunya, ia teringat perkataan ayahnya untuk tidak memarahi ibunya. Akhirnya, Malin Kundang hanya pasrah dan berdoa agar ibunya sadar akan perbuatannya. Malin Kundang kembali ke kota dan melanjutkan kehidupannya. Tiga bulan kemudian terdengar kabar bahwa ibu Malin Kundang gila. Kemudian Malin Kundang menengok ibunya ke Padang. Akhirnya Malin Kundang merawat ibunya sampai sekarang.

Iklan

Tas Hitam Pembawa Sial

Aku masih mengusap keringatku yang tidak berhenti menetes. Terakhir kali kuingat, aku berjalan melewati sebuah lapangan kosong. Tapi mengapa keringatku mengalir begitu deras sekarang? Apa yang telah aku lakukan? Ah. Nafasku masih terengah-engah. Jantungku berdebar-debar. Rambutku lusuh seperti habis dijambaki. Di tangan kiriku terdapat sebuah tas hitam mewah. Dengan manik-manik menghiasinya. Aku semakin heran. Kuberanikan diri membuka tas itu. Di dalamnya terdapat dompet dan beberapa perlengkapan hias. Selain itu terdapat sebuah KTP atas nama Mawar.
Angin malam membuat bulu kudukku berdiri. Aku semakin bertanya-tanya tentang siapa pemilik tas ini dan mengapa tas ini berada di tanganku? Di sebelah kananku ada sebuah kios tua. Buku-buku terbitan lama tertata rapi di rak kiosnya. Lampu di depan kios menyala seadanya. Di sebelah kiriku, di ujung jalan beberapa orang asyik bermain gaple. Salah satu di antara mereka menatapku penuh curiga.
Di belakangku terdapat keramaian pasar dengan kedipan lampu komedi putar. Dari kejauhan gerombolan orang berlari ke arahku. Sesekali mereka berteriak “Maling! Maling!”. Seorang yang berada di paling depan berlari sambil mengatakan “bukan aku malingnya!”. Di belakangnya Bapak satpam membawa pentungan. Salah satu orang lainnya membawa balok besar. Orang-orang di belakangnya ikut berlari meramaikan suasana. Aku masih berdiri dengan tas mewah di tangan kiriku di depan kios tua.
Sekitar sepuluh meter lagi mereka berada di dekatku. Aku bingung mau apa. Seorang yang paling depan terengah-engah nafasnya. Wajahnya pucat. Seakan mau bertemu dengan kematiannya. Terlihat pula salah satu pengejarnya jatuh tersandung batu. Jarak antara orang yang paling depan dengan pengejarnya semakin dekat, sekitar dua meter. Udara malam semakin dingin. Perasaanku semakin tidak menentu. mataku kosong. Aku bingung!
Tiga menit setelah itu, tepat dihadapanku orang paling depan tertangkap. Dia dipukuli dan ditendangi. Bapak satpam memukul dengan pentungannya. Balok melayang dari pinggir kerumunan. Orang tadi dikeroyok. Aku beranikan diri untuk mendekati kerumunan itu. Aku tanyakan kepada seseorang disana tentang apa sebab perkara. Kata seorang yang kutanya, “orang itu telah mencuri tas ibu di sana” jawab lelaki itu sambil menunjuk wanita berbaju merah menyala.
Aku terbelalak. Nafasku terhenti sejenak. Sementara di tangan kiriku masih membawa tas mewah berwarna hitam. Kuperiksa lagi KTP yang ada di tas yang kubawa. Ternyata foto yang ada di KTP itu sekilas mirip dengan wanita berbaju merah menyala yang kehilangan tas. Aku panik. Keringatku menetes sederas-derasnya. Barangkali wajahku putih seputih mayat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasibku ke depannya. Aku tengok kembali ke kerumunan orang yang mengeroyok orang tadi. Tetesan darah mengucur dari kepala orang itu. Mukanya bonyok.
Badanku menggigil. Aku takut, tetapi dalam lubuk hatiku aku ingin mengembalikan tas itu kepada pemiliknya. Tekadku sudah bulat. Aku akan memberikan tas ini kepada wanita berbaju merah menyala tadi. Aku tarik nafas panjang. Aku melangkah ke arah wanita itu. Kuberikan tasnya dengan senyuman. Wanita itu juga membalas dengan senyuman. Aku lega dan segera bergegas menjauh dari kerumunan itu.
Baru beberapa detik aku berbalik, wanita itu berteriak, “itu malingnya! maling tasku!”. Aku terbelalak. Aku tidak sanggup berlari. Kerumunan itu menuju kearahku. Pentungan Bapak satpam sudah di depan mataku. Balok juga siap melayang memukul badanku. Aku berteriak. Namun, ada yang menepuk badanku. Aku tersadar dari lamunanku. Di tanganku ada sebuah tas mewah berwarna hitam yang kutemukan di jalan. Aku panik. Bapak satpam yang menepukku tadi mengarahkanku ke pinggir jalan untuk menepi. Beberapa mobil mengantri di jalan. Aku bergegas pergi dari jalan itu. Di perjalanan pulang, aku buang tas mewah berwarna hitam itu untuk menghindari lamunanku menjadi kenyataan.

Membunuh Senja di Kampus Tercinta

Udara sore hari mulai bertiup sejuk di lorong yang menghubungkan gedung delapan dengan kantin kampus ini. Dalam pandangan nampak kantin yang sepi dengan lalu lalang mahasiswa yang berjalan pulang. Di taman dekat kantin terdapat seorang pegawai yang memungut sampah. Aku masih berjalan menuju kantin. Di langit: cumulus masih memanja dengan cahaya matahari yang memudar.
Di ujung kantin aku berhenti sebentar untuk melihat poster yang ditempel pada tiang lorong. Sebuah poster pengumuman lomba menulis puisi dan cerpen yang berhadiah jutaan rupiah. Aku sangat tertarik dengan lomba ini. akan tetapi, sayang sekali, batas akhir pengumpulan karya lomba sudah lewat. Aku hanya bisa menatap kosong poster itu, kemudian aku melanjutkan perjalananku menuju kantin dengan rasa kecewa. Belum juga aku sampai di kantin, kepulan asap rokok sudah menyerbu indera penciumanku dengan sedikit bercampur aduk dengan bau asap satai.
Aku telusuri setiap meja kantin, mencari tempat yang asyik untuk menghabiskan senja. Aku duduk di tengah, di meja orange nomor delapan, sementara di belakangku, di meja orange nomor dua puluh tiga, terdapat beberapa mahasiswa yang asyik bermain gitar dan bernyanyi. “lumayan, hiburan gratis. hehe”, aku membatin. Sesekali aku sangat menikmati alunan lagu demi lagu yang dinyanyikan oleh mereka sehingga tanpa sadar ikut bernyanyi juga. Aku dimabukkan dengan lagu Sheila on 7, pria kesepian mengalun lincah di telingaku. Aku ikut bernyanyi dan memecahkan keheningan senja di kantin kampus ini, namun tiba-tiba, dari meja nomor dua puluh tiga, seorang lelaki berjalan ke arahku. Benar saja, beberapa meja telah dilewatinya. dia berjalan menuju mejaku kemudian dengan wajah yang seram ia memukul lemah lenganku. “Bos, ada korek nggak?” kalimat itu yang keluar dari mulutnya yang sudah penuh dengan sebatang rokok kretek. Aku menggeleng karena memang aku tidak punya korek karena aku memang bukan seorang perokok, kemudian lelaki itu berjalan menuju meja lainnya, meja hijau. Di sana terdapat beberapa mahasiswa yang asyik dengan kartu reminya, mungkin mereka bermain poker, capsa atau mungkin teprok nyamuk, tidak begitu jelas kelihatan dan memang aku tidak terlalu mempedulikannya.
Senja masih menjalani proses hidupnya dan awan mulai menggelap: angin bertiup dari arah utara. Belum selesai kegalauanku dengan musik yang dimainkan pemuda-pemuda kampus ini, datang seorang anak loper koran yang biasa berjualan di kampus. Seorang bocah berumur sekitar sembilan tahun dengan pakaian yang sudah kumal, dia membawa tumpukan koran yang masih cukup banyak. Di wajahnya: nampak rasa lelah karena sudah keliling kampus untuk menjajakan koran, nampak rasa sedih karena korannya masih banyak yang belum terjual, dan nampak rasa takut akan bosnya yang akan memarahinya apabila korannya tidak habis terjual.
Aku memanggilnya dengan sedikit teriak untuk memecah kebisingan musik. Ia menghampiri aku, kemudian langsung duduk dan meletakkan korannya di atas mejaku. Tanpa basa basi aku tanyakan berapa harga sebuah koran nasional yang biasa kubaca. “harga korannya dua ribu kak, tapi buat saya seribu, jadinya harganya tiga ribu kak. Tolong dibeli yaaa kaaak”. Pintanya dengan tampang memelas. Aku beli satu korannya, kemudian tanpa mengucapkan terima kasih bocah itu pergi menuju meja lainnya.”sepertinya sopan santun belum diajarkan kepadanya.huuuuuuuh” aku membatin sambil menarik nafas tanda kekecewaanku.
Senja berada di ujung ajalnya. Mahasiswa yang bermain musik berhenti bernyanyi dan bergegas pulang. Seorang pedagang mengambil piring dan gelas kotor dari meja yang ditempati mahasiswa tadi. Beberapa pedagang kantin sudah membawa gembolan perlengkapan jualannya. Mereka juga hendak pulang. Mahasiswa yang bermain kartu remi sudah pulang sedaritadi. Bocah loper koran juga tidak nampak lagi. Kantin ini menjadi sangat sepi. Hanya beberapa orang saja yang duduk sambil menghabiskan batang demi batang rokoknya. Aku bingung harus berbuat apa, yang menjadi pertanyaanku sekarang, mengapa aku melupakan tujuan awalku ke kantin, untuk membeli makan?

September

akalku mengelekar diantara jari jemari langit yang kering di bulan: September: mengajariku tentang apa itu arti perjuangan:bintik-bintik abu diusir angin yang bergerak ke arah matahari terbenam di bulan: September: banyak beban yang ada disini: moral dan materi.di bulan September: hujan belum juga menampakkan diri: ketika kancil sang koruptor telah dikurung, dan para gundik-dundiknya sedang meraya: di bulan September: Papa mengumbar lagi aibnya yang justru mengancam keberadaannya di bulan September: dan wajah senja sang Indonesia kembali muram, September: TIMNAS mau mencoba peruntungannya: sedang bintang masih mengintip dari kejauhan, di bulan September: bumi menjadi lebih indah karena dia: di Bulan September: perang kembali dimulai: awan gelap sudah menyelimuti maghrib yang deras di bulan September: aku masih hidup untuk tetap belajar mengenalmu, mengenal Septembermu.

CINTA : Hermawan Aksan

PISAU lipat itu bergetar di genggamanku. Ah, pasti karena denyut jantungku yang kian kencang, seperti pegas di ambang retas. Pisau itu baru kubeli di toko kecil tak jauh dari rumahku.
Hijau pupus warna tangkainya—seperti warna gaun kesukaannya, entah dari bahan apa,dan kecil saja ukurannya.Harganya pun tak seberapa. Dalam keadaan terlipat, palingpaling lima sentimeter panjangnya.Dalam keadaan terbuka,tajam ujungnya berkilat tatkala memantulkan cahaya. Kalau kita berkaca,akan tampak wajah kita yang sebenarnya: mengerikan seperti denawa.
Tiap malam, keletak-keletuk sepatunya yang beradu dengan lapisan beton jalan gang kompleks perumahan memukulmukul keheningan.Memukul-mukul jantung. Mula-mula samar, seperti ketukan ujung jari di tembok, makin lama makin nyaring. Iramanya selalu sama. Seperti nyanyian dua per dua, dengan tempo alegro. Selalu ingin kusibakkan tirai jendela, kuintip remang jalan di muka, dan kunikmati sumber bunyi yang menggetarkan lebih dari komposisi Tchaikovski.Bila perlu,akan kubuka pintu kamarku, lalu keluar dan kutunggu dia di pintu pagar.Akan kusapa dia dengan ucapan selamat malam. Dan aku yakin dia akan menoleh dengan senyumnya yang paling mendebarkan. Udara akan tersaput dengan harum magnolia. Seandainya waktu berkurang lima atau enam tahun, aku bahkan akan menunggunya di ujung jalan.
Aku akan menyapanya dengan segala kesopanan.Aku yakin dia akan menarik bibir merahnya dengan senyuman yang ramah.Kalaupun tidak, dia tentu akan menjawab sapaanku dengan lirik mata yang mendebarkan atau suara yang mendesis seperti bisik angin. Kalaupun tidak juga, aku akan memaksanya berjalan merendenginya di sepanjang gang yang sunyi.Bila perlu merangkulkan tanganku di pundaknya. Tapi sampai ketukan itu larut di udara malam, aku masih terempas dalam kesunyian yang makin mengimpit.
Aku hanya bisa membelai permukaan bilah pisauku, pelan-pelan dari pangkal, dan aku merasainya seakanakan jemariku menyusuri permukaan punggungnya—duhai, aku bahkan belum tahu namanya. Tak lama lagi dia, setelah lelah sejak sore menghibur para lelaki yang kelelahan, akan sampai di rumahnya. Tepatnya, salah satu kamar di rumah mewah hampir di ujung jalan. Dia akan membuka pagar besi rumah itu, lalu akan terdengar derit yang menyilet hening, membuka kunci pintu samping,menutupnya kembali,berjalan menaiki tangga,dan membuka pintu kamar depan di lantai dua.Ketika pintu terbuka, pasti akan meruap wangi yang tak kalah segar dari dalam kamar.
Mungkin dia akan langsung merebahkan tubuh rampingnya di kasur yang empuk dengan seprai merah muda yang harum.Mungkin juga dia akan membuka dulu bajunya, mengambil handuk, lalu membasuh tubuh telanjangnya dengan air yang sejuk. Setelah itu, akan ia kenakan gaun tidur hijau pupus yang lembut.Sama lembutnya dengan hijau tangkai pisauku. Dia pasti sangat menyukai warna hijau.Gaun hijau sutra itu halus dan tipis sehingga akan menerawangkan warna kulitnya yang pualam dan bentuk tubuhnya yang mengingatkanku pada sosok Dewi Supraba.
II

OH, kenapa kamu selalu gelisah, lelaki? Kamu ingin keluar mencegat perempuan malam itu? Keluarlah. Muncratkan semua kepenatan dalam dadamu. Aku tak ingin menjadi penjara bagimu. Kalau kauanggap bahwa apa yang ada dalam pikiranmu akan membuatmu menjadi laki-laki, ayolah kumpulkan keberanianmu, buka pintu hati-hati supaya kamu yakin tak akan membangunkanku.
Dan aku tak akan membuka mata seandainya pun aku bangun dan mengetahuinya. Bukalah pintu, menyelinaplah keluar seperti kucing. Bukankah laki-laki itu memang kucing? Tutup lagi pintu.Kalau perlu, kuncilah dari luar biar aku terkurung di dalam, dalam ketidaktahuan— setidaknya tidak tahu menurut anggapanmu. Senyampang keletak-keletuk suara sepatunya masih menggema di telinga, keluarlah melalui pintu muka.Sapalah dia dengan segala kesopanan.
Aku yakin dia akan menarik bibir merahnya dengan senyuman yang ramah. Kalaupun tidak, dia akan menjawab sapaanmu dengan lirik mata yang mendebarkanmu atau suara yang mendesis seperti bisik angin. Tapi, kalaupun tidak juga, jangan memaksanya berjalan merendenginya di sepanjang gang yang sunyi, apalagi merangkulkan tanganmu di pundaknya. Pasti dia terlalu lelah karena sejak sore menghibur para lelaki yang kelelahan.
Temani saja sampai rumahnya.Tepatnya,salah satu kamar di rumah mewah hampir di ujung jalan. Bukakan pagar besi rumah itu, hati-hati, pasti akan terdengar derit yang menyilet hening. Antar dia membuka kunci pintu samping, menutupnya kembali, berjalan menaiki tangga, dan membuka pintu kamar depan di lantai dua.Kamu pasti akan suka karena ketika pintu terbuka,akan meruap wangi yang tak kalah menyegarkan dari dalam kamar. Kamu pasti akan lebih suka kalau dia akan langsung merebahkan tubuh rampingnya di kasur yang empuk dengan seprai merah muda yang harum, apalagi kalau dia membuka dulu bajunya,mengambil handuk,lalu membasuh tubuh telanjangnya dengan air yang sejuk. Bukankah kamu selalu membayangkan indahnya pemandangan itu? Hei, kamu masih gelisah di sini, lelaki?
III

Keletak-keletuk bunyi sepatuku yang beradu dengan lapisan beton memukul-mukul hening malam. Dan memukul-mukul dadaku.Aku seperti menjadi manusia soliter, sendirian hidup ketika alam semesta tidur.Dan sebentar pagi aku akan menjadi satusatunya manusia yang mati ketika alam semesta hidup disiram matahari.
Oh, tidak, aku yakin, di sebuah kamar, seorang lelaki tengah gelisah. Hampir tiap malam aku merasakan sepasang mata memandang dari kegelapan seperti hendak menelanku. Aku tak pernah melihat mata itu.Tapi aku merasakan sorotnya, seperti sepasang garis sinar sejajar yang memancar dari sudut malam yang pudar. Dasar lelaki, ayolah sibakkan tirai jendelamu, intiplah keremangan jalan ini. Akan lebih baik lagi kalau kau tidak terus-menerus sembunyi, tapi bukalah pintu kamarmu, lalu keluar dan menungguku di pintu pagar. Sapalah aku dengan ucapan selamat malam.
Atau selamat pagi. Aku akan menoleh sambil kuberikan sisa senyumku. Tapi sampai kulewati kamarmu yang temaram,aku hanya menjumpai kesunyian yang makin mengimpit. Aku memang lelah karena sejak sore menghibur para lelaki yang mengaku kelelahan. Namun aku senang melakukannya karena dengan demikian aku menjadi makin tahu bahwa semua lelaki memang tolol. Mereka saling berebut kekayaan sepanjang siang seperti binatang yang berebut makanan, hanya untuk dibuang dalam beberapa kejapan malam harinya, dengan alasan untuk mengusir kelelahan. Ah, ayolah, lelaki, bukankah kamu sama dengan semua lelaki itu?
IV

AH,perempuan,maafkan aku.Kau terlalu indah, karena itu izinkan aku melukis tubuhmu, untuk bisa kunikmati sendiri lukisannya.Kamu terlalu indah untuk juga dimiliki lelaki lain. Telah kusiapkan kuas yang khusus. Ujungnya memang tajam mengilat, dan tak perlu cat jenis apa pun untuk melukis tubuhmu.
Mungkin aku akan memulai dengan ujung telunjuk kiriku sebagai semacam garis kasar, yang akan diikuti dengan ujung pisau lipatku.Ya, ya, akan kumulai dari bawah tengkuk lehermu. Bukankah di sana ada tato kupu-kupu yang membentangkan sayapnya yang biru? “Kenapa kau senang tato kupu-kupu?” begitulah aku akan bertanya lebih dulu. “Karena indah sekaligus rapuh,” pasti demikian jawabmu. Ironi yang indah,bukan? Dari gambar kupu-kupu di tengkukmu, perlahan-lahan akan kususuri dengan ujung jariku, sekaligus ujung pisauku, lekukan di tengah punggungmu yang melandai dan berakhir di lembah di antara tonjolan bokongmu yang membukit.
Lukisan Rembrant atau Monet, repertoar Beethoven atau Mozart, puisi Keats atau apalagi sekadar Goenawan, hanyalah ujung kuku dibanding keindahanmu. Dan aku ingin menikmati sendiri. “Aku ingin memilikimu selama hidupku. Dengan cinta.” Begitulah aku akan berbisik,sebelum kau meregang nyawa di puncak cinta. Mungkin kau akan tertawa, disertai air mata.
V
HEI, lelaki,apa artinya cinta?
VI
Ha-ha-ha! ***

Masih Haruskah Ada Pahlawan Devisa?

Memang benar Indonesia adalah Negeri yang besar. Memang benar jika dibandingkan negera sekitar, kita adalah bangsa yang kaya. Tetapi apakah benar bahwa negara ini sudah sejahtera? Jelas belum jawabannya. Saya masih dapat melihat pengangguran di Indonesiaku ini. Dalam hitungan 1 sampai 7, mungkin Indonesia hanya nilai 3 dalam hal penyediaan lapangan kerja. Perekonomian Indonesia mengalami surplus tenaga kerja. Jumlah penawaran tenaga kerja melampaui permintaannya. Pemerintah memperkirakan angka pengangguran turun dari 7,9 persen di tahun 2009 menjadi 7,6% pada 2010. Tetapi sebenarnya masih banyak orang dengan status bekerja, namun melakukan pekerjaan yang tidak layak. Sebelum krisis ekonomi 1997, angka elastisitas penyerapan tenaga kerja cukup tinggi. Setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi menyerap lebih dari 400 ribu tenaga kerja baru. Sementara pada masa puncak krisis (1998-2000), penyerapan tenaga kerja menurun drastis hingga di bawah 200 ribu penyerapan untuk setiap persen pertumbuhan ekonomi. Meskipun saat ini sudah membaik, penyerapan tenaga kerja belum sebaik sebelum krisis.
Padahal faktanya sangat banyak sektor-sektor sumber daya yang bisa diolah dan dimanfaatkan. Sebenarnya dalam prinsip ekonomi saja, Indonesia sudah memiliki keuntungan lebih dengan jumlah sumber daya manusia yang melimpah. Karena pada dasarnya sumber daya alam akan berjalan searah dengan sumber daya manusia.memang tidak bisa dipungkiri sumber daya modal amatlah berperan penting. Sejarah berbicara ketika pemerintahan Soeharto melakukan utang ke negara lain dengan menempatkan anggarannya di sektor pangan. Pembangunan setelah itu berjalan stabil. Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang, ditempatkan dimanakah utang tersebut. Sudahkah ditempatkan di sektor yang tepat?karena percuma saja apabila utang yang banyak tidak diimbangi investasi-investasi penting, di bidang kesehatan atau pendidikan misalnya.
Bicara keuangan negara, bicara tentang pendapatan perkapita. Apakah Anda tahu berapa pendapatan perkapita negara ini? Sekitar satu juta rupiah, jauh dibandingkan dengan Malaysia atau singapura yang bisa sampai lima juta. Ya, miris memang. karena dibandingkan negara tetangga, Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Yang jadi pokok permasalahannya sekarang adalah kualitas dari sumber daya manusia itu sendiri. Jangan berharap kualitas sumber daya baik, apabila mutu pendidikan yang disediakan baik. Belum lagi tingkat kemerataan fasilitas pendidikan yang belum merata di setiap daerah.
Alhasil, sumber daya manusia yang ada di Indonesia kalah bersaing dengan masyarakat internasional. Masyarakat Indonesia tenggelam pada pasar bebas yang bersemboyan, siapa yang kuat, dialah yang hidup! Akibat dari sempitnya lapangan pekerjaan dan rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia, masyarakat Indonesia memilih untuk bekerja sebagai tenaga kerja di luar negeri. Alih-alih proses registrasi yang mudah dan tidak diperlukannya riwayat pendidikan tinggi yang dibawa, sebagian besar masyarakat Indonesia memilih bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia. Apabila dibandingkan dengan gaji buruh di Indonesia, gaji TKI jauh lebih besar. Pekerjaannya juga tidak perlu menguras otak dan pikiran. Asalkan menuruti saja perkataan majikan, TKI akan bebas dari amarah dan perlakuan tidak menyenangkan.
Hari-hari yang dilalui oleh TKI di negara lain bisa dianggap sebagai pekerjaan ibu rumah tangga, termasuk juga pekerjaan memotong rumput atau menjadi supir pribadi. Tidak membutuhkan pikiran memang, hanya bermodalkan tenaga dan kemauan menuruti semua keinginan sang majikan. Namun hal ini menjadi suatu permasalahan baru memang, persoalan dimana majikan menjadi otoriter, menjadi orang yang paling semena-mena.
Namun saya memandang TKI sebagai kemiskinan. Belakangan ini sering kita lihat dan saksikan dari berbagai media massa tentang betapa malangnya nasib TKI di negeri orang. Penyiksaan dari para majikan menjadikan para TKI cacat secara fisik maupun psikologis. Namun, apa daya yang bisa mereka lakukan? Perekonomian yang menghimpit tak elak membuat mereka merasa jera. Sampai hari ini kita selalu mendengar kabar bahwa TKI identik dengan penyiksaan, kesengsaraan, pemerasan dan lain sebagainya. Tidak adakah kabar baik mengenai TKI? Apakah TKI memang sasaran empuk bagi mereka orang-orang yang brutal ataukah TKI memang sudah mempersiapkan diri untuk diperlakukan seperti itu? Pemerintah sebagai pelaku dan pelaksana pemerintahan, dirasakan sangat kurang sekali perhatiannya atas nasib para TKI ini. Pencermatan keadaan secara hukum dalam permasalahan TKI, semestinya melibatkan elemen-elemen fundamental termasuk administrasi, kontrak, asuransi, dan MoU antar negara. Tanpa adanya dasar hukum yang kuat dan administrasi yang legitimate, pemerintah Indonesia akan sulit mengatasi permasalahan tenaga kerja Indonesia. Sudah semestinya pemerintah Indonesia benar-benar serius, karena dengan demikian masalah-masalah yang selama ini terjadi bisa berkurang banyak. Tapi sayangnya, pemerintah selalu menunggu sampai masalahnya sudah menjadi besar dan buruk. Ironis nya seringkali kasus-kasus itu baru ditangani oleh pemerintah, setelah kasus-kasus tersebut menjadi isu publik. Penanganan kasus TKI yang dilakukan Pemerintah Indonesia sama sekali tidak menyentuh akar persoalan yang sesungguhnya. Sebaliknya, pemerintah dan semua pihak terkait selalu berbangga jika mendengar majikan dihukum dan TKI diberikan berbagai biaya sebagai kompensasi. Tetapi, sumber masalah yang ada di dalam negeri tetap dibiarkan kian menggurita.

TKI memang berperan besar bagi perekonomian Indonesia. Nilai remitansi TKI tahun 2008 mencapai sekitar Rp60 triliun per tahun (15% PDB Indonesia). Tak bisa di pungkiri, julukan pahlawan devisa memang tepat mereka sandang. Maka dari itu, pemerintah perlu menertibkan para agen TKI ilegal untuk menghindari permasalahan sejak proses awal. Kita semua perlu menyadari bahwa permasalahan TKI berawal dari dalam negeri, meskipun akar masalah di luar negeri juga tidak bisa diabaikan. Rendahnya kesempatan kerja dan tingginya pertumbuhan penduduk sebagai akibat mengendurnya berbagai kebijakan kependudukan berdampak pada meningkatnya aliran pekerja dengan pendidikan rendah ke luar negeri.

Tentu, keadaan yang terjadi dilapangan berangkat dari para TKI itu sendiri yang memiliki keinginan tinggi dan impian yang menjanjikan jika mendapat kesempatan untuk bekerja diluar negeri dengan imbalan dolar, ringgit, atau riyal. Karena kuatnya impian itu ingin dicapainya, mereka rela berbohong dan memalsukan data administrasi. Hal ini bisa dihindari dengan adanya pengawasan dan penentuan oleh pihak praktisi, dalam hal ini pemerintah, yang bertanggung jawab.
Selain itu, perlu koordinasi yang lebih baik antara BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) dan Kemenakertrans. Tentunya pemerintah juga harus lebih fokus untuk mengungkapkan solusi dan bukan sekadar mengungkapkan masalah. Semua pihak harus segera duduk bersama. Instrumen kebijakan untuk mengatasi masalah TKI tidak harus terkait langsung dengan urusan TKI itu sendiri. Kini, saatnya dilakukan evaluasi total terhadap penanganan TKI. Evaluasi itu melibatkan semua instansi terkait, termasuk aktivis LSM, peneliti, dan perguruan tinggi. Dari sana harus dihasilkan sebuah rencana besar penanganan TKI yang berbobot disertai rencana aksi nyata sehingga ke depan tidak ada lagi korban. Karena pada dasarnya, Indonesia saat ini membutuhkan komitmen kebijakan kependudukan yang kuat dan secara tidak langsung akan mengatasi masalah TKI pada jangka panjang, sehingga julukan TKI sebagai pahlawan devisa, tak hanya menjadi gincu pemanis saja tetapi akan ada timbal balik, simbiosis mutualisme antara TKI dan Negara.
Oleh karena itu, sepertinya kita masih memerlukan sosok sosok pahlawan devisa. Sembari membangun Indonesia menjadi negara yang luas lapangan pekerjaannya. Pemerintah berpeluang besar untuk mengakhiri permasalahan tenaga kerja dan menghentikan pengiriman TKI ke luar negeri, jika mengubah kebijakan pembangunan politik ekonominya. Dari yang berorientasi penguatan ekonomi perkotaan menjadi penguatan pedesaan. Karena pada hakikatnya orang desalah yang banyak mendapatkan pekerjaan. Dan semoga Tuhan menjadikan Indonesia menjadi negeri yang lebih baik. Baik masyarakatnya maupun pemimpinnya!
Hidup Rakyat Indonesia!